Afdhal    31 Oktober 2020

Secangkir Teh yang Anggun untuk Ibu dan Impiannya

Aku ini perempuan penggemar hijau dan kuning. Makanya, aku paling suka memandang hamparan rumput di embun pagi dan silau mentari selepas fajar.

Duduk dan menatapnya dari bangku kayu sepanjang satu meter, yang dulunya sewaktu aku kecil, dibuat Ayah dari sisa kayu jati dari tempatnya bekerja sebagai kuli bangunan.

Kalau ada yang menanyakan, malu apa tidak? Aku langsung saja memperlihatkan lukisan atau sketsa karyaku, atau sekadar fotonya. Lalu orang itu memujinya dan bertanya, “belajar dari siapa? Anak sanggar ya?”. Aku sih kasih senyum aja. Anaknya tidak suka banyak omong.

Setelah tertawa kecil atau senyum secuil, biasanya aku akan melanjutkan dengan jawaban singkat dan padat, kalau aku belajar dari sketsa-sketsa kasar fondasi bangunan proyek Ayahku. Maksudnya proyek bos Ayahku.

“Ayahku itu keren. Walau kuli bangunan, ia guru lukis yang hebat,” tuturku pada mereka yang agaknya seperti itu. Lalu mereka tentu saja diam dan merasa kalah telak mungkin.

Saat ini aku berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi, bekerja paruh waktu sebagai jurnalis, bergiat di dunia seni dan kerelawanan, berhura-hura dalam membaca dan menulis. Meski cukup ahli melukis wajah mantan gebetan, tapi aku tak berniat sama sekali untuk melanjutkan bakat kecilku itu. Kini menulis adalah jalan ninjaku.

Aku mulai melukis sejak kelas empat SD, ya kira-kira saat umurku sembilan menjelang sepuluh tahun. Sedangkan, menggambar dan bermain warna sudah aku gemari sejak aku kecil, sewaktu masih seumuran anak TK.

Meski aku tidak TK, tetapi di masa kecil, setiap harinya, aku selalu merasa rumahku seperti Taman PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Itu semua karena Ibuku guru TK yang hebat. Maksudku, sudah seperti guru TK papan atas bagiku.

Lagi-lagi karena orang tuaku. Mereka adalah intan permata aku dan kedua adikku. Ya barangkali seperti potongan berlian atau ngetrennya disebut diamond cut.

Beberapa tahun belakangan ini, aku sangat aktif melamun usai menyeruput secangkir teh ditemani secangkir lainnya, di saat pagi atau sore hari. Aktif yang jika sempat saja. Mempersembahkannya untuk Ibuku sayang, dan menantikannya pulang, seraya mengingat apa yang dia bilang.

Tentang impiannya menyeruput teh bersama keluarga di teras rumah buah kesuksesan anaknya. Saat itu yang aku bayangkan adalah rumah yang megah, mewah, Ibu, Ayah, aku dan adik-adik yang minum teh sangat anggun bersama di depan rumah yang elegan.

Teh yang airnya dimasak di panci atau periuk modern penuh estetika, lalu dituang ke cangkir yang anggun yang berisi teh. Rasanya kurang lebih seperti membayangkan adegan minum teh kerajaan, yang muncul di film Barbie as the Island Princess. Bagai berbalik ke masa kanak-kanak, aku berkhayal dengan polosnya.

Panci modern itu agaknya, beberapa hari lalu telah tergambar cukup jelas dalam beberapa helai kalimat dan lipatan kata. Begini kira-kira bunyinya, “kali ini Modena dan Christian Sugiono mendesain produk yang memperindah ruangan, dengan penampilan mewah bertema Luxury in Style”.

Kalau tidak salah, namanya adalah Water Heater, atau pemanas air. Katanya ini akan mempercantik ruangan anda semua. Iklan ini aku baca di press release Modena waktu itu, pas peluncuran produk tersebut.

Kalau dengar iklan tentang alat dapur begini, aku jadi teringat dengan abang-abang atau tante-tante yang lagi demo masak di rumah tetanggaku dulu. Merekalah yang membuat masa kecilku punya hobi suka mencoba sampel makanan atau jadi testernya.

Sampai sekarang kalau pergi ke mal, plaza atau minimarket masih suka makan sampel menggiurkan, padahal sama sekali tidak beli. Duh, aku jadi kasian sama yang punya usaha makanannya.

Sepertinya ide yang bagus, jika barang elegan seperti Water Heater itu aku hadiahkan kepada Ibuku. Sebab yang kudengar, seri Water Heater terbaru dari Modena ini memiliki banyak keunggulan dan manfaat. Cocok untuk Ibuku, yang selalu suka hal-hal multimanfaat dan ngotot sekali anaknya harus punya berjuta manfaat.

Berdasarkan yang aku baca, produk tersebut dibuat dengan teknologi dan fitur canggih yang dapat memperlambat pertumbuhan bakteri, serta akan menetralisir kandungan korosif dalam air rebusannya, untuk mencegah terjadinya karat.

Selain itu, produk ini juga punya sistem keamanannya sendiri yang secara otomatis dapat memutus aliran listrik bila terjadi kebocoran arus. Hm cukup modern, pikirku. Persis seperti khayalanku tentang impian Ibuku.

Lalu juga ditambah lagi dengan kehadiran om ganteng menurut emak-emak, Christian Sugiono sebagai brand ambassadornya, yang namanya cukup sering berseliweran di rumpi emak-emak perumahanku. Apalagi kalau lagi ngomongin tentang pria idaman.

Aku rasa Ibuku yang juga emak-emak, cukup mengingat nama itu atau jangan-jangan juga malah mengidolakannya.

Memikirkan semua itu, aku jadi teringat dulu Ibu sering curhat, andai punya cukup uang, dia ingin sekali beli peralatan dapur yang cantik-cantik. Katanya, dia tak ingin anak gadisnya malu jika ada temannya yang main ke rumah dan iseng masak-masak di dapur. Padahal aku sama sekali tidak memikirkan itu waktu itu, bahkan sampai sekarang pun tidak pernah.

Ya begitulah orang tua, selalu ingin yang terbaik untuk para anaknya. Anaknya bisa apa? Paling hanya bisa memijat orang tua ketika lelah dan pegal-pegal atau rewel minta dibanting jika keinginannya tidak terpenuhi.

Aku sih ingin sekali sesekali menghadiahkan Ibuku peralatan dapur yang mewah seperti produk terbaru Modena itu. Tapi, bagiku yang orang biasa-biasa saja, Water Heaternya mereka itu pasti sangat mahal. Bahkan mahal sekali.

Aku rasa butuh waktu berbulan-bulan bagiku menabung uang untuk membelikan Ibuku Water Heater atau pemanas air dari Modena itu, yang kelihatan sangat eksklusif dan limited edition, beritanya.

Bagiku mungkin tak terlalu masalah, jika tak bisa membelinya. Tapi, sungguh aku yakin Ibu pasti bahagia jika mendapatkan hadiah seperti itu. Meskipun katanya, alasannya itu adalah demi anaknya. Tapi, aku tahu Ibu akan sangat bahagia dan berbinar bila menerimanya.

Barangkali selain mendapat bahagianya Ibu karena mendapat barang yang bagus, aku mungkin juga sedikit akan memenuhi impianku mengenai rencanaku mengajak Ibu jalan-jalan keluar negeri. Ya setidaknya bisa merasakan sensasinya saja dari Water Heater Modena, produk peralatan dapur asal Italia Utara itu.

Sepertinya aku hanya melamun dari tadi. Itu masa laluku yang aktif kulamunkan akhir-akhir ini, sampai pada impian tak bertaut dalam usaha mewujudkan impian lainnya.

Aku bukanlah anak tunggal yang bisa melamun lebih lama. Tapi aku adalah anak yang tanggal dari Ibunya. Aku tinggal jauh dari impianku di masa lalu. Jadi kalaupun pemanas air itu aku beli, buat siapa dan buat apa? Apa bisa buat Ibuku yang sudah tanggal dariku dan dari dunia semu ini?

Saat ini aku duduk di bangku kuliah. Ibuku sudah tiada sejak aku berumur lima belas tahun, sekiranya saat itu aku ada di kelas satu SMA atau kelas sepuluh. Ah sudahlah, sepertinya aku hanya rindu pada Ibuku.

Tapi tunggu dulu, mungkin Ibuku akan senang jika aku wujudkan saja keinginannya itu. Meski bukan dia yang menggunakannya, tenang saja, aku tentu akan senang mamanfaatkannya, karena memang sejak awal Ibuku sudah bilang kalau dia ingin punya barang bagus seperti itu semata untuk kebahagiaan anaknya dan agar anaknya bisa disukai banyak temannya.

Sebenarnya aku tentu tidak setuju membuat teman-temanku menyukaiku hanya karena benda yang aku miliki. Tapi ini masalahnya tentang kebahagiaan Ibuku. Jadi apapun itu, aku lakukan saja.

Untuk memulainya, aku membuat celengan di balik buku-bukuku yang tebal. Ntah mengapa aku ini sedikit berbeda dari yang lainnya. Tentu saja yang lain jika menabung uang itu adalah pada bank atau di dalam celengan. Tapi, kalau aku tidak begitu. Aku berbeda.

Aku lebih suka menabung di dalam lembaran kertas bukuku. Aku ini tipe orang yang pandai berhemat sedari dulu. Dulu semasa SD, waktu itu jajanku cuma sekitar dua ribu rupiah per hari, setiap hari aku juga menabung uangku, kadang seluruhnya, kadang setengahnya, lalu setiap hari juga aku membawa bekal, itu sangat mendukung kondisiku dalam bertahan hemat.

Aku adalah anak yang juga terkenal gigih. Pernah aku menabung uang jajanku matia-matian hanya untuk membeli komik best seller impianku, sampai tak jajan berminggu-minggu, karena jajanku waktu itu cuma berkisar dua ribu hingga tiga ribuan rupiah saja. Itu waktu SMA. Maklumlah, Ayahku cuma kuli bangunan, jadi aku tau diri.

Selalu begitu, kalau ingin beli sesuatu, harus menabung dulu dan aku tipe anak paling gengsi minta apa-apa selalu sama orang tua. Lebih baik aku memberi orang tuaku, daripada minta melulu. Bukan masalah sombong atau tidak, tapi ini masalah fungsi anak. Tidak akan mudah dimengerti memang. Tapi kalian tahu, itu baik.

Gawaiku, laptopku, bajuku saat ini, kecuali motor yang selalu kugunakan untuk memborong buku-buku di toko buku, itu semua hasil jerih payahku menabung dari gaji hasil kerja paruh waktu sebagai penulis lepas dan jurnalis, uang hasil memenangkan berbagai macam lomba, main teater di panggung seni di sudut kota atau sekadar jadi panitia di sebuah event organizer.

Jadi aku adalah anak yang tidak perlu bank atau celengan hanya untuk menabung, cukup di laci atau di rak buku saja. Kalu di laci, aku cukup takut adikku kumat tuyulnya. Jadi aku simpan saja di antara ketebalan buku-buku yang kucintai dan kuyakini ketat penjagaannya.

Aku akan menabung beberapa minggu atau beberapa bulan ini, khusus untuk membeli Modena Water Heater. Supaya ada kebahagiaan di atas sana dan di bayanganku.

Mungkin selebihnya nanti jika sudah mampu, aku akan merombak rumah sederhana ini menjadi rumah bergaya klasik atau minimalis, yang suka dilihat Ibu di siaran televisi tentang desain interior, lalu kuletakkan pemanas air yang ingin kubeli itu nanti di bagian dapurnya.

Impian yang sedang kutabung itu, sedang kuangsur dan sudah kulukis sketsanya di benakku, tinggal kuberi warna jika benda itu sudah terbeli dan pemandangan rumah sudah berubah. Barangkali dari rintik air mata bisa membeku jadi potongan berlian seperti diamond cut. Maksudnya seperti Water Heater Modena yang berkilau seperti diamond cut.

Aku harap dengan membeli penghangat air Modena nanti, yang katanya sangat sesuai untuk masyarakat urban penganut gaya hidup sehat ini, mungkin akan bisa menghapuskan kenangan pahit tentang kesehatan Ibuku yang memburuk waktu itu, yang merebutnya dariku.

Siapa tahu dengan membeli pemanas air ini, apa yang diminum keluargaku bisa jauh lebih sehat kedepannya. Jadi akan lebih aman rasanya untuk keluargaku yang tersisa, Ayahku dan adik-adikku di masa mendatang.

Kelamaan melamun dan keras berpikir sejak tadi, aku jadi ingin mendengarkan lagu. “Aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember. Di bulan Desember.” Seperti kata lagu, aku juga suka menunggu hujan reda saat di bulan Desember.

Bukan mau sok-sok ikut-ikutan. Benaran sama. Hanya saja bedanya, kalau Efek Rumah Kaca sukanya karena ingin memulihkan luka, sedang aku sukanya karena ingin membuat secangkir teh hangat yang anggun untuk Ibu di bulan Ibu, bersama kenangannya dan impiannya.(Indah Lestari/Green Radio Line)

Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2021. Green Radio Line