Green Radio Line, Bengkalis -Kelompok masyarakat Desa Beringin, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis, terus mengembangkan usaha peternakan madu di kawasan penyangga Cagar Biosfer Giam Siak Kecil–Bukit Batu. Upaya ini menjadi salah satu bentuk kemandirian ekonomi warga tanpa harus merusak ekosistem hutan.
Sekretaris Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) Riau, Hasan Supriyanto, mengatakan budidaya lebah madu di desa tersebut sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Awalnya kegiatan dilakukan secara mandiri dengan sekitar 250 stup, namun sebagian rusak akibat serangan hama seperti monyet dan beruang. Akibat serangan itu, kegiatan kelompok ternak lebah tersebut sempat terhenti.
“Melihat semangat warga, kami bersama LPAD dan P2SEMH Kementerian Kehutanan dengan dukungan International Tropical Timber Organization (ITTO)-organiasi yang berfokus pada kehutanan-membantu 50 stup baru. Bantuan juga mencakup pelatihan pengendalian hama, pengemasan, dan pemasaran produk,” jelas Hasan.
Lebah madu jenis Apis mellifera dibudidayakan di areal kebun sawit yang disewa peternak. Untuk mencegah gangguan satwa, mereka membuat pagar kejut berarus rendah dan alat bunyi sederhana dari karung dan kaleng bekas.
Hasil panen madu bervariasi tergantung kondisi setiap stup. Panen biasanya dilakukan dua kali dalam sebulan.
“Awalnya pemasaran hanya di sekitar kampung, tapi sekarang sudah lewat media sosial dan dikemas lebih menarik,” katanya.
Pengembangan peternakan madu lebah menjadi sangat penting, terlebih lokasi peternakan itu berada di CB Giak Siam Kecil Bukit Batu, kawasan yang sudah lama menjadi sasaran ekspansi kebun sawit. Hasan menilai, pengembangan madu menjadi peluang ekonomi alternatif bagi warga di sekitar hutan.
“Selama ini masyarakat bergantung pada sawit. Madu bisa jadi sumber ekonomi baru tanpa membuka hutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi multi pihak dalam menjaga kawasan biosfer tersebut. Hasan menilai, banyak pihak yang berkepentingan di CB Giak Siak Kecil. Mulai dari perusahaan HTI, perkebunan sawit skala besar maupun skala kecil. Menurutnya, kolaborasi memegang kunci keberhasilan untuk menjaga keseimbangan antara kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat.





