Newsroom    23 April 2026

Pesut Muncul di Sepanjang Pesisir Indragiri Hilir, Peneliti Soroti Pentingnya Konservasi

Green Radio Line, Indragiri Hilir — Kemunculan pesut atau Orcaella brevirostris dilaporkan terjadi di sepanjang pesisir wilayah ini. Temuan tersebut disampaikan oleh Mujiyanto, peneliti konservasi sumber daya hayati laut dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam wawancara melalui pesan suara pada Selasa (21/04/2026).

Mujianto menjelaskan, pesut—yang secara global dikenal sebagai Irrawaddy dolphin—merupakan mamalia laut yang keberadaannya teridentifikasi melalui dua pendekatan penelitian. Pertama, metode observasi langsung menggunakan alat bantu seperti teropong binokuler dan drone. Dari hasil pengamatan ini, pesut ditemukan di perairan sekitar Pulau Cawan dan Belilas, dengan waktu kemunculan umumnya pada pagi hari pukul 05.30–07.00 WIB dan sore hari pukul 17.00–18.00 WIB.

Pendekatan kedua dilakukan melalui metode partisipatif atau citizen science. Dari 103 responden masyarakat pesisir, sebanyak 62 orang dengan rentang usia 23 hingga 79 tahun melaporkan kemunculan pesut dalam periode 2023–2024. Berdasarkan laporan tersebut, pesut terlihat di sepanjang pesisir mulai dari Tanah Merah, Kuala Indragiri, hingga Desa Bekawan.

Menanggapi kondisi perairan Indragiri Hilir yang juga menjadi habitat buaya, Mujiyanto menyebut bahwa pesut tetap dapat hidup berdampingan. Hal ini disebabkan tidak adanya hubungan predasi yang signifikan antara keduanya. “Secara ekologis terdapat pemisahan relung, perbedaan strategi mencari makan, serta rendahnya frekuensi interaksi langsung,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pesut merupakan predator aktif yang berburu ikan dan sefalopoda dengan bantuan sistem ekolokasi beresolusi tinggi, sementara buaya lebih mengandalkan deteksi getaran air. Selain itu, ekosistem sungai dan estuari yang kompleks memungkinkan keduanya menempati ruang berbeda dalam satu lanskap yang sama. Fenomena serupa juga ditemukan di wilayah Asia Tenggara lain seperti Sungai Mahakam dan Mekong.

Namun demikian, ancaman utama terhadap populasi pesut justru berasal dari aktivitas manusia, seperti penggunaan alat tangkap berbahaya, degradasi habitat, serta lalu lintas kapal yang menimbulkan kebisingan.

Untuk menjaga kelestarian pesut di Indragiri Hilir, Mujianto menekankan perlunya langkah konkret. Beberapa di antaranya adalah pengendalian alat tangkap berisiko, perlindungan habitat kunci, pengurangan kebisingan perairan, pelibatan masyarakat lokal, serta penguatan regulasi dan penegakan hukum.

Menurutnya, upaya konservasi harus dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah dan pusat, masyarakat nelayan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, hingga sektor swasta. “Tanpa integrasi antaraktor, konservasi tidak akan berjalan efektif,” katanya.

Mujiyanto juga mengingatkan bahwa tanpa perlindungan serius, populasi pesut berpotensi menurun drastis hingga mengalami kepunahan lokal. Dampaknya tidak hanya pada hilangnya spesies, tetapi juga terganggunya keseimbangan ekosistem perairan, menurunnya kualitas lingkungan, hingga hilangnya potensi ekonomi seperti ekowisata.

“Pesut merupakan indikator kesehatan ekosistem. Jika mereka hilang, itu menjadi tanda bahwa kondisi perairan juga memburuk,” ujarnya.

Dengan meningkatnya laporan kemunculan pesut di pesisir Indragiri Hilir, para peneliti berharap momentum ini dapat mendorong langkah nyata dalam perlindungan dan pengelolaan berkelanjutan ekosistem pesisir di wilayah tersebut.

Reporter : WD

Foto       : DKP Provinsi Riau 

Tags:
Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2026. Green Radio Line