Newsroom    23 April 2026

Perempuan Mampu Memimpin Pengelolaan Hutan Keberlanjutan, Berbasis Masyarakat

Green Radio Line, Pekanbaru - Bertepatan dengan momentum Hari Kartini Jikalahari dengan dukungan dari The Asia Foundation melalui program Women Forest Defender (WFD) menyelenggarakan kegiatan seminar bertajuk: "Peran Perempuan dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan"Selasa, 21/04/2026 bertempat di Gedung Integreted Classroom Universitas Riau., diikuti sekitar 100 orang berbagai elemen Masyarakat Sipil, dan mahasiswa pecinta alam dari berbagai perguran tinggi di Pekanbaru.

Selaku pelaksana kegiatan Seminar Wakil Koordinator Jikalahari, Apriyan Sagita dalam sesi sambutan menyebutkan latar belakang dari pelaksanaan kegiatan ia menilai, “Perempuan sebenarnya sudah banyak terlibat dalam pengelolaan hutan di tingkat tapak, mulai dari menjaga kawasan, mengelola hasil hutan bukan kayu, hingga memperkuat ekonomi keluarga. Namun, keterlibatan itu belum diikuti dengan ruang yang setara dalam pengambilan keputusan. Mereka masih sering ditempatkan sebagai pelengkap, bukan sebagai penentu arah. Semangat hari Kartini adalah semangat untuk memutus belenggu ketidakadilan dan memberikan peran perempuan yang sebesar-besarnya”

Kemudian dilanjutkan oleh Rektor Universitas Riau yang diwakilkan oleh Dr. Yuana Nurulita, S.Si., M.Si, Ph.D Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan (WR II) Unri, membuka resmi seminat tersebut mengatakan,”Ketika seorang perempuan ingin melakukan sesuatu, effortnya harus lebih. Tanpa support sistem yang tidak mumpuni, tidak akan bisa. Apalagi tentang persoalan hutan, ini sangat penting dan baik, bagaimana hutan kedepannya serta memberikan dampak ke sekitarnya. 

Dimoderatori  Nurul Fitriya, Mongabay Indonesia seminar diisi empat narasumber, yakni Dr. Gusliana HB dari Universitas Riau, Amniati Hakim dari Perkumpulan Bunga Bangsa, Siti Masfiroh dari Yayasan Mitra Insani, serta Muhanawati, Ketua KUPS Assyifa dari Indragiri Hilir.

Amniati Hakim, Direktur Perkumpulan Bunga Bangsa tampil, menyuarakan pendapatnya sekaligus berbagi pengalaman, pada sesi presentasi dengan berbagai kondisi ditingkat tapak, seperti terbatasnya akses terhadap lahan dan modal , Sosial budaya patriarki, peran domestik perempuan, rendahnya partisipasi dan tidak setara dalam pengambilan keputusan,terbatasnya kemampuan dan pengetahuan serta literasi digital rendah, kebijakan yang belum responsif terhadap kebutuhan perempuan Pendampiangan yang belum fokus terhadap perempuan

Dilanjutkan Ir. Siti Masfiroh, S.Pi MEL Officer Yayasan Mitra Insani yang hidup bersama masyarakat Pesisir Indragiri Hilir Provinsi Riau, menyinggung pentingnya merawat pengetahuan lokal, “Keterlibatan perempuan tidak bisa hanya diukur dari jumlah atau kehadiran dalam daftar keanggotaan. Pertanyaannya adalah apakah mereka benar-benar memiliki ruang untuk bersuara, terlibat dalam proses, dan ikut menentukan keputusan. Tanpa itu, kita hanya menciptakan partisipasi semu, dan kehilangan banyak potensi penting, seperti pengetahuan lokal dan peluang ekonomi yang lebih inklusif,”ujar Siti.

Dari sisi akademisi  Dr. Gusliana HB memaparkan"Posisi perempuan dalam kebijakan dan regulasi kehutanan di Indonesia"ia mengatakan”Saat ini tengah bertransisi dari posisi marginal menuju partisipasi yang lebih aktif, terutama melalui kebijakan Perhutanan Sosial yang mengarusutamakan kesetaraan gender Meskipun peran perempuan sangat krusial dalam pengelolaan hutan, keterlibatan mereka dalam kebijakan masih terbatas dibandingkan laki-laki”

Sesi berikutnya mendengarkan cerita, praktik baik  Muhana Wati Woman Champion yang dihadirkan langsung dari Indragiri Hilir dalam Mengelola Perhutanan Sosial, Ia bersama perempuan lainnya bisa mengerjakan banyak hal, seperti membuat keripik pisang, piring lidi dan tambak ikan. “Kita mengajak perempuan untuk melestarikan lingkungan dengan masyarakat terjun langsung menjaga hutan” Didalam itu ada hak dan kewajiban kita,ungkap Muhana.

Kegiatan ini diakhiri dengan sesi penanggap, satu diantaranya Woro Supartinah Direktur Lembaga Permberdayaan Ekonomi dan Sosial Masyarakat (LPESM Riau) Ia meyakini perempuan itu multitasking, dia memiliki beban ganda dan menjadi aktor kunci. “Jika ingin melakukan perubahan maka mulailah dari cara pikir yang benar dan jadilah perempuan yang memberdayakan perempuan lainnya”tutur Woro

Reporter : WD

Foto        : Jikalahari

Tags:
Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2026. Green Radio Line