Pekanbaru, GREEN-Pekanbaru dan kota-kota sekitarnya di Riau mengalami kondisi cuaca yang cukup ekstrem beberapa hari terakhir. Kali ini adalah cuaca panas yang sangat tinggi.
Sangat sering terdengar keluhan warga tentang ini. "Panas kali. Tak tahan," kata seorang ibu yang biasa berbincang dengan jurnalis Greenradioline.id. "Subhanallah, sungguh panasnya. Beri kami cuaca sedikit sejuk ya, Allah," ungkap seorang lainnya, kemarin.
Pantauan Green, pada Kamis, 13 April 2023, cuaca terlihat sempat menyentuh suhu 34 derajat Celcius sekira pukul !4 hingga 15 WIB, sebagaimana terlihat di layar komputer dan telepon pintar. Lebih sore, suhu sedikit turun ke angka 33 derajat Celcius.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Sultan Syarif Kasim II melalui forecaster-nya Fitri Nur Astuti, menjelaskan, suhu udara di Pekanbaru pada Kamis, 13 April 2023, sempat mencapai 33,6 derajat Celcius yang tertinggi. Terjadi pada siang hari.
"Suhu udara yang dirasakan akhir-akhir ini cenderung terasa panas dan matahari sangat terik disebabkan oleh beberapa hal. Pertama yaitu karena pada Bulan Maret posisi matahari tepat berada di atas ekuator atau khatulistiwa. Ia bergerak menuju ke belahan bumi utara," ungkapnya.
Karena itu, saat ini penyinaran matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal, sehubungan posisinya yang tegak lurus terhadap garis khatulistiwa.
"Seperti kita ketahui bahwa wilayah Riau berada di sekitar khatulistiwa," katanya lagi.
Siklon
Kemudian, adanya faktor bibit siklon. Merujuk Wikipedia, siklon adalah sebuah wilayah atmosfer bertekanan rendah yang bercirikan adanya pusaran angin yang berputar berlawanan dengan arah jarum jam di bumi belahan utara dan searah jarum jam di bumi belahan selatan. Istilah ini secara umum mengacu kepada berbagai variasi dari fenomena cuaca, termasuk siklon tropis, siklon ekstratropis dan tornado.
Lebih jauh diterangkannya, dalam dua hari terakhir terdapat bibit Siklon 90W di wilayah utara dan Siklon Tropis ILSA di wilayah selatan yang secara bersamaan menyebabkan awan-awan yang tumbuh di wilayah Indonesia terkonsentrasi di wilayah bibit siklon dan siklon tropis tersebut.
"Sehingga, di beberapa wilayah ekuator Indonesia awan-awan yang terbentuk cenderung sedikit dan menyebabkan sinar matahari mencapai permukaan bumi secara maksimal terutama pada siang hari."
Dengan kondisi demikian, BMKG mengimbau masyarakat memulas tabir surya pada kulitnya bila hendak beraktivitas di luar ruangan. Lebih baik lagi bila memilih tidak beraktivitas di luar ruang. Ini karena paparan sinar ultraviolet (uv) sangat tinggi pada siang hari. "Termasuk mengonsumsi air dengan cukup agar terhindar dari dehidrasi," Fitri menambahkan keterangannya. (din)





