PEKANBARU- Ternyata, lahan gambut juga bisa menghasilkan produk fashion (busana) seperti yang dilakukan masyarakat Kalimantan Selatan, dengan memanfaatkan Purun yang tumbuh di dekat air atau rawa gambut sebagai bahan anyaman berbagai produk fashion gambut.
Salah satu upaya restorasi gambut yaitu perbaikan mata pencaharian masyarakat sekitar hutan. Melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat wilayah prioritas restorasi gambut. Ini berhasil dijalankan provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) yang merupakan satu dari tujuh wilayah yang menjadi prioritas Badan Restorasi Gambut (BRG).
“Kita mencegah asap kebakaran, tapi asap kita tetap mengepul. Jadi kita coba mendorong pemanfaatan Purun dengan menguatkan kelompok ekonomi desa,” ungkap Enni Maslahah, Dinamisator BRG Provinsi Kalsel dalam webinar yang diadakan Green Radio Line Pekanbaru, Jum’at (02/10).
BRG menguatkan revitalisasi ekonomi dengan menempatkan 1 fasilitator di setiap desa untuk mendampingi masyarakat membuat kelompok pengrajin dan melatih keterampilan. Kelompok pengrajin mendapat insentif dari Pemerintah Desa dan bantuan alat produksi dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian tingkat Kabupaten.
Pengrajin Purun Berkat Illahi, Desa Pulantani, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalsel, Siti Rahmah mengatakan, “Terbentuknya kelompok pengrajin, Juni 2019 hanya [berawal] dari 19 orang menjadi 53 orang. Tadinya kami hanya bisa membuat tikar dan bakul, sekarang bisa membuat produk yang bernilai jual jauh lebih tinggi.”
Penjualan produk fashion gambut di Kabupaten HSU tersebut difasilitasi oleh Du Anyam. wirausaha sosial yang memberdayakan perempuan penganyam di pedesaan Indonesia. David Manalu, Junior Project Du Anyam, menjelaskan asal nama usahanya, “Du itu ibu-ibu dan Anyam artinya menganyam. Jadi kata Du Anyam berasal dari bahasa Sika Kabupaten di Nusa Tenggara Timur.”
Du Anyam bekerjasama dengan BRG menjembatani kelompok pengrajin dengan cara membangun sistem dan membantu peningkatan kualitas produk agar dapat memenuhi permintaan pasar. Mereka juga membantu masyarakat untuk melestarikan Purun sebagai bahan baku utama, “Kita memiliki program demonstrasi plot (Demplot) sehingga ada hubungan antara ekonomi dan penjagaan lingkungannya,” tambah David.
Menurut Enni, Du Anyam merupakan pelaku usaha yang tidak hanya memikirkan profit, tapi juga memikirkan aspek sosial dan lingkungan. Pemerintah Desa bersama Du Anyam membuat Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding, MoU) untuk melakukan penanaman kembali. Karena Purun memiliki banyak nilai. Dari aspek ekologis, Purun dapat menjaga ketebalan lapisan gambut dan kadar air. Perkumpulan ibu-ibu pengrajin Purun dipersiapkan sebagai jalur pemersatu dalam menjaga kelestarian budaya masyarakat tempatan, sehingga motif yang ada pada produk dihasilkan bisa mempertahankan nilai-nilai tersebut.
Reporter: CR-01





