Gambut adalah lahan basah yang terbentuk dari timbunan materi organik yang berasal dari sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Hal ini dijelaskan oleh Pantau Gambut, wadah atau platform daring yang menyediakan akses terhadap informasi, mengenai restorasi ekosistem gambut di Indonesia.
Pantau Gambut bersama Yayasan Lahan Basah, Universitas Palangkaraya dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menggelar webinar bertema 'Food Estate di Lahan Eks PLG, Cocok atau Tidak?', Selasa (8/9). Dalam seminar berdurasi selama kurang lebih tiga jam ini, Eli Nur Nirmala Sari, Spesialis Restorasi Gambut WRI Indonesia, mengatakan budi daya tanaman di lahan gambut boleh dilakukan, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang ramah gambut.
Budi daya tanaman di lahan gambut harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan ekologi lahan gambut. "Seringkali orang beranggapan dengan membakar lahan gambut, maka gambut akan menjadi subur dan bagus. Padahal sebaliknya, membakar gambut artinya menghilangkan unsur hara dan nitrogen yang ada di dalam gambut," tutur Eli.
Tidak hanya memperhatikan ekologi gambut, persyaratan lainnya juga harus dilakukan, seperti tidak melakukan konversi terhadap hutan gambut untuk menjadikannya sebagai lahan pertanian atau perkebunan, tidak mencemari lingkungan dengan membakar hutan gambut dan mengeringkan lahan gambut, membuat skala yang non-monokultur, serta turut melibatkan masyarakat di wilayah gambut tersebut.
Di sisi lain, I Nyoman Suryadiputra, Direktur Yayasan Lahan Basah, menjelaskan mengenai kedalaman gambut yang baik digunakan untuk budi daya tanaman dan pengembangan bahan pangan, yakni pada gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter. Namun, juga dikatakan bahwa sebelum membuka lahan, ada baiknya dilakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap kubah gambut dan tidak hanya berfokus pada dangkal atau tidaknya gambut yang akan digarap.
Melihat dan mempertimbangkan kesesuaian lahan dan bukan mengejar target luasan lahan, hal ini dapat mengentaskan masalah dan kegagalan berbagai proyek pangan. Dipandu Clorinda Wibowo dari Pantau Gambut Nasional, Rektor Universitas Palangkaraya Andri Elia mengajak seluruh masyarakat dan korporasi agar bertindak cerdas, demi menjaga lingkungan hidup dan keberlangsungannya.
Reporter: CR-03





