Newsroom    31 Januari 2024

Kematian Gajah Rahman Agar Diusut Tuntas

Kematian gajah patroli bernama Rahman pada 10 Januari lalu, menjadi perhatian publik tidakhanya di Riau tetapi diseluruh Indonesia dan jagat maya. Tak tinggal diam, gerakan penyelamatan satwa dari Komunitas For Gajah Rahmanpun dilakukan dengan menggalang dukungan agar kasus pembunuhan gajah ini diusut tuntas melalui petisi pada Change.org dan telah mendapatkan lebih dari 3600 tanda tangan. Petisi tersebut ditujukan kepada Kepolisian Daerah Riau untuk mengungkap tuntas kasus ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk melakukan perlindungan nyata gajahSumatera baik di wilayah pengelolaan(eksitu) dan habitatnya.

Rahman dan tiga ekor gajah lainnya beserta perawatnya(mahout) yang tergabung dalam Elephant Flying Squad (timreaksicepatpenanganankonflikgajah)sejak pertengahan2004 telah melakukan penanganan mitigasi konflik manusia-gajah di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo, KabupatenPelalawan- Riau. Tim secara rutin berpatroli menggunakan gajah, berjalan kaki atau kendaraan bermotor untuk mengantisipasi masuknya gajah liar ke perkebunan sawit atau karet masyarakat atau pemukiman dan melakukan pengusiran gajah liar agar kerugian masyarakat minimal.Tim ini juga bersama otoritas terkait melakukan patroli kebakaranhutan. Kondisi hutan yang telah banyak berubah fungsi termasuk kawasan konservasi mempersempit wilayahjelajah gajah sehingga gangguan gajah tidak bisa dihindarkan. Gajah tidak lagi memiliki tempat bersembunyi dan mencari makan yang aman dari aktifitas manusia. Kehadiran tim termasuk Rahman yang dianggap kapten dalam timnya karena ketangguhannya dalam penanganan gangguan gajah liar telah membantu mengurangi kerugian masyarakat.Namun sangat disayangkan, gajah Rahman mati diracun dan gading sebelah kiri dipotong ketika ia dalam keadaan sekarat.

Kematian gajah Rahman kini tengah ditangani Ditreskrimsus Polda Riau. Undang-UndangDasar1945,Pasal28 menjaminkan hak bagi masyarakat Indonesia untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan. Untuk itu KomunitasFor Gajah Rahman berharap publik terus mendukung penegak hukum dan pengambil kebijakan terkait konservasi gajah untuk menuntaskan kasus ini dan melakukan perbaikan perlindungan gajah Sumatera dan satwa lainnya.

Fitriani Dwi Kurniasari, nara hubung dari For Gajah Rahman menyatakan, “Kami yakin banyak yang peduli untuk melindungi gajah Sumatera.Gajah Sumatera adalah salah satu satwa kunci yang statusnya menuju kepunahan, padahal ia berperan penting dalam keseimbangan ekosistem kita. Mari kita tunjukkan peran kita untuk menjaga mereka, meski sekecil apapun sangat berarti.”Ia menambahkan, “Kasus gajah latih atau gajah patroli mati diracun seperti ini bukan yangpertama,di Riau sendiri sebelumnya pernah terjadi di Pusat Latihan Gajah Minas pada Mei 2009,dua ekor gajah mati dan dua pasang gadingnya diambil meskipun tidak sempat dibawa kaburpelaku. Kejadian serupa pernah terjadi juga di Aceh dan Lampung. Ini bahkan belum termasukkasus-kasusgajah liar lainnyayang pelakunyatidak terungkap.”

Majelis Ulama Indonesia pada tahun2014 mengeluarkan Fatwa nomor4 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk Keseimbangan Ekosistem. Keprihatinan juga datang dari Lembaga PemuliaanLingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam - Majelis Ulama Indonesia atau LPLH & SDA MUI Riau terhadap kondisi satwa dilindungi. KH.AbdurrahmanQoharuddin,KetuaLembagaPemuliaanLingkungan HidupdanSumberDayaAlam- MUI (Majelis Ulama Indonesia) Riau yang turut serta dalam proses pembuatan fatwa tersebut punya kedekatan sendiri dengan gajah Rahman. Abdurrahmanmenyatakan,“Sedih sekali mendengar gajah Rahman mati. Gajah ini sangat bekesan bagi saya sewaktu bertemu langsung denganya bersama Tim dari MUI Pusat ke Tesso Nilo tahun2013 untuk menggali dan memahami permasalahan konflik gajah dan perburuan satwa.

GajahRahman mengagumkan dan namanya sama pula dengan nama saya yang bermakna baik danmemangbaik sudah banyak membantu manusia.”
KH.Abdurrahmanyang juga merupakan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Riau menambahkan, “Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik dan melarang perbuatan buruk di mukabumi oleh karena itu manusia tidak perlu lagi menunggu-nunggu untuk mendukung penyelamatan lingkungan.”

Tiga minggu sudah kematian Rahman,proses penyelidikan terus berlanjut.Penegakan hukum atas kejahatan satwa dilindungi diharapkan dapat menjerat pelakunya dengan hukuman maksimal agar menimbulkan efek jera dan menjadi pembelajaran kepada masyarakat bahwa kejahatan ini tidakdapat ditoleransi. Sebatang gading hanya dihargai beberapa puluh juta di pasar illegal tetapi kerugian negara dan lingkungan yang di akibatkan matinya gajah jauh lebih besar. Gajah diciptakan untuk penyeimbang dalam ekosistem, jika populasi dan habitatnya terganggu maka kehidupanmanusia terganggu. Dampaknya telah sangat terasa, banjir yang sering melanda akhir-akhir inisalah satu dari akibat hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati di dalamnya.

**Admin

Tags:
Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2024. Green Radio Line