Newsroom    29 April 2023

Karhutla Berlanjut Sejak 19 April 2023, TMC di Dumai dan Bengkalis Minim Dampak

Pekanbaru, GREEN-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau sudah terjadi sejak 19 April 2023. Tepatnya berlangsung di Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis. Berlanjut lebih kurang 11 hari, teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang sudah dilakukan sehari lebih awal belum memberikan dampak berarti memadamkan api secara lebih alamiah.

Sebagaimana keterangan Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Sumatra V/Dumai Ismail Hasibuan, timnya sudah turun ke lapangan dan titik kebakaran sejak 19 April 2023. Mereka mendapatkan informasi pertama kali sekirang pukul 11.00 siang melalui aplikasi percakapan yang menampung perwakilan insitusi dalam Satuan Tugas (Satgas) Siaga Darurat Karhutla di Kota Dumai.

Pada saat itu Ismail menurunkan dua regu berjumlah total 27 orang. Mereka membawa peralatan pompa air sebanyak empat unit dengan beberapa variasi sesuai peruntukannya.

Itu tepatnya dua hari jelang Hari Raya Idul Fitri. Tentu saja, harapan mereka dapat pulang masih dalam suasana Lebaran yang kental.

Namun, hingga kari kesebelas, 29 April 2023, pekerjaan mereka masih jauh dari usai. Meski kebarakan sudah terkendali, tapi kondisinya masih belum kondusif. "Kebakaran sudah terkendali. Artinya sudah sangat kecil kemungkinan untuk semakin menjalar, namun situasi belum kondusif, karena asap masih muncul di banyak tempat," ungkapnya menyimpulkan perkembangan situasi karhutla.

Adanya aktivitas TMC yang dilakukan sejak 18 April 2023 dibenarkan beberapa pihak sebelumnya. Siaran pers dan informasi sampai ke kalangan jurnalis. Satu pihak yang juga membenarkan adalah Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Sultan Syarif Kasim (BMKG) Ramlan Djambak. Beberapa foto dan video juga beredar melalui akun-akun resmi dan pribadi para pemangku kepentingan terkait.

Target

Menanggapi masih minimnya dampak TMC untuk mengantisipasi karhutla dan juga perluasan karhutla, Ramlan menyatakan bahwa sudah menjadi target TMC ketika itu untuk dapat memadamkan kebakaran yang ada di Dumai. "Target TMC tentu utk pemadaman kebakaran yang ada Dumai," ungkapnya.

"Namun, karena luasnya atmosfer atau alam, tentu tidak serta merta bisa tercapai target pemadaman kebakaran secara langsung."

Ia lebih lanjut menjelaskan, pirinsip TMC adalah merangsang atau menarik awan-awan dengan menabur garam (NaCl) yang sudah berbentuk bubuk di sekitar wilayah Dumai. Itu agar awan dapat menyatu dan diharapkan terjadi hujan setelahnya.

Diungkapkan Ismail, hujan baru terjadi pada Jumat, 28 April 2023, dini hari, selama kira-kira satu jam. Hujan itu bermula sekira pukul 03.00 WIB dini hari. Intensitas yang dirasakan hanya ringan ke sedang.

Hari ini, proses pemadaman karhutla sudah mencapai tahap pendinginan. Ini sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Namun, asap masih banyak bermunculan dan kemungkinan di lapisan gambut yang lebih dalam masih ada bara yang dapat memunculkan titik api baru.

Harapan

Sembari melaksanakan proses pendinginan, ada harapan tim di lapangan agar pembuatan sekat kanal terus dilakukan di berbagai wilayah yang rawan terbakar. Itu dimaksudkan agar kebakaran tak merambat, sehingga petugas dapat fokus menjaga titik-titik asap.

Kemudian, tim dapat terus melanjutkan penyiraman, khususnya di tempat-tempat yang diasumsikan dapat muncul titik api baru. "Di tempat-tempat itu juga harus padam seratus persen. Saat cuaca ekstrem seperti saat ini, sangat gampang muncul titik-titik api baru," kata Ismail lebih lanjut.

Selanjutnya, pengeboman air juga perlu ditambah. Ini sebagai langkah untuk lebih mempercepat upaya pemadaman dan pendinginan. 

Pemberitaan sebelum ini, karhutla di Dumai dan Bengkalis bermula pada 19 April 2023. Ketika itu diperkirakan luasnya hanya sekira delapan hingga 10 hektare. Namun hingga hari ini, kawasan terbakar telah mencapai lebih kurang 80 hektare.

Lahan yang terbakar itu diungkapkan Ismail dimiliki oleh pribadi-pribadi. Kebanyakan adalah semak belukar dengan vegetasi antara lain akasia liar, bermacam jenis semak. Lahan tersebut dapat disimpulkan masih kosong atau belum diolah.

Mengenai status lahan, diketahui Ismail itu berada dalam kawasan Area Peruntukan Lain (APL). Ada juga yang merupakan wilayah Hutan Produksi Konversi (HPK). Kemudian, di sekelilingnya terdapat perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang diperkirakan dimiliki oleh pekebun sawit mandiri atau pribadi. (din)

 

Teks foto: Seorang petugas pemadam Manggala Agni Daerah Operasi Sumatra V/Dumai berjibaku menumpahkan air dari selang ke area yang terbakar suatu hari di antara sebelas hari mereka berada di kawasan karhutla. (FOTO: Manggala Agni)
 

Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2024. Green Radio Line