Berdasarkan data pemerintah pusat, di tahun 2020 ini terdapat sekitar 64.600 hektar area hutan dan lahan yang hangus terbakar, selama periode Januari hingga Juli lalu. Menurut Yayasan Manusia dan Alam untuk Indonesia (Madani) Berkelanjutan, telah terjadi perluasan Area Potensi Terbakar (APT) dari luasan 18.000 hektare di bulan Juli menjadi 84.000 hektare di bulan Agustus. Sedangkan, pada bulan September, pada saat musim kemarau mulai beralih ke musim penghujan, titik-titik hotspot sudah mulai berkurang.
Namun, meski begitu kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia saat ini tidak boleh dianggap enteng. Jika pemerintah tidak segera mengatasinya, maka Karhutla akan menimbulkan deforestasi yang luar biasa, yang sangat berpotensi memicu terjadinya masalah baru di masa pandemi.
Asap yang diproduksi oleh Karhutla menyerang sistem pernapasan dan imun tubuh manusia melalui polusi udara. Ini artinya akan lebih memperbesar potensi bagi seseorang untuk terpapar Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang juga menyerang sistem pernapasan manusia. Bahkan digadang-gadang karhutla yang berkepanjangan akan dapat memicu timbulnya virus baru di era pandemi Corona ini. Demikian dinyatakan dalam satu webinar soal keterkaitan Karhutla di Indonesia dan pandemi yang melanda dunia saat ini.
Hal ini pun dijelaskan secara rinci oleh Monica Nirmala, Senior Public Health Advisor Yayasan Alam Sehat Lestari (Asri) Indonesia, melalui Indonesia Forest Forum 'Cegah Deforestasi untuk Indonesia yang Lebih Sehat' yang diselenggarakan oleh Tempo Media Group di Jakarta, 24 September.
Di dalam webinar tersebut, Monica menjelaskan keterhubungan Karhutla dengan Covid-19 yang bakal berdampak sangat buruk bagi kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. "Saya menyebutnya teori 5S, yaitu susceptibility (kerentanan tertular), severity (keparahan penyakit), system (beban sistem kesehatan), spread (penyebaran virus) dan self legitimacy (pemenuhan komitmen bebas asap)," tutur Monica.
Acara webinar yang merupakan salah satu upaya untuk merespon potensi bencana ganda Covid-19 dan Karhutla tersebut, mendukung penuh inisiatif dari Yayasan Asri dalam seruan para profesional kesehatan Indonesia untuk mencegah Karhutla di saat pandemi. Inisiatif ini mereka realisasikan melalui sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, yang didukung dan ditandatangani lebih dari 500 tenaga kesehatan profesional Indonesia.
Kelestarian hutan, kesehatan, dan aturan pemerintah, sangatlah berpengaruh bagi keberlanjutan kehidupan manusia dan makhluk lainnya. Jika satu dari ketiga hal tersebut tidak berjalan beriringan atau terjadi ketimpangan di antaranya, maka dapat berdampak buruk secara signifikan. Ketimpangan atau ketidakseimbangan itu pulalah yang menjadi penyebab utama terjadinya pandemi Covid-19 seperti saat ini. Maka dari itu, pencegahan Deforestasi perlu dilakukan secara terus-menerus, demi terciptanya Indonesia yang lebih sehat.
Reporter CR-03





