Green Radio Line, Kampar - Udara pagi di Kecamatan Kampar Kiri Hulu terasa sejuk dan lembap. Rombongan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama tim Green Radio Line dan jurnalis foto Wahyudi memulai perjalanan dari Pekanbaru menuju kawasan penyangga Hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, Sabtu,(18/10/2025)
Tujuannya ialah menelusuri potensi wisata alam di Desa Gema dan Desa Tanjung Belit. Dua kawasan yang menyimpan lanskap hijau dengan potensi ekowisata menjanjikan.
Sekitar tiga setengah jam perjalanan ditempuh, melintasi jalanan berliku menuju destinasi pertama, Bumi Perkemahan Wisata Alam Desa Gema. Di sana, puluhan tenda telah berdiri di tepi Sungai Subayang. Suasana riuh anak-anak dan kelompok pecinta alam yang berkemah berpadu dengan gemericik air sungai yang jernih.
“Tempat ini sangat potensial untuk dikembangkan,” ujar Kepala BBKSDA Riau, Supartono, S.Hut., M.P., yang turun ke lokasi bersama tim. “Kalau kita bisa mengemasnya dengan baik, pasar dari Pekanbaru yang biasanya ke Padang atau Bukittinggi bisa kita arahkan ke sini," tambahnya.
Kami juga menyempatkan berbincang sejenak dengan Camat Kampar Kiri Hulu, Bustamar, serta warga Desa Gema.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Air Terjun Batu Dinding di Desa Tanjung Belit. Meskipun dari Desa Gema bisa menuju ke air terjun bisa juga melalui jalur sungai, kami memilih mengikuti jalur darat waktu itu, mobil hanya mampu menempuh separuh jalan karena perbaikan pasca longsor sehari sebelumnya. Sisanya dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di pinggir sungai menuju pos gerbang wisata alam Air Terjun Batu Dinding.
Sesampainya di pos, berbincang sejenak dengan Pokdarwis yang bertugas hari itu. Kemudian melanjutkan lagi perjalanan menuju lokasi air terjun. Rambatan akar dan jalur berundak dari balok coran menjadi tantangan tersendiri. Sekitar 20 menit berjalan, suara gemuruh air terjun terdengar. Di hadapan kami, menjulang dinding batu dengan air jernih mengalir deras setinggi 15 meter. Di bawahnya, kolam alami berbentuk lingkaran menampung pengunjung yang datang untuk mandi dan bersantai.
Supartono menilai, daya tarik wisata air di kawasan ini menjadi keunggulan tersendiri. Suasana alam yang asri dan tempat bersantai yang nyaman, menjadi pilihan berkunjung ke sana, melupakan sejenak hiruk pikuk kota dan pekerjaan.
“Airnya jernih dan lokasinya indah. Ini bisa dikembangkan untuk wisata air seperti river tubing.Tapi yang terpenting, masyarakat harus siap, mulai dari pengelolaan sampah, pelayanan, hingga keamanan pengunjung,” ujarnya. Ia menekankan bahwa pengelolaan ekowisata tak bisa dilakukan secara instan. Pengembangan ekowisata Air Terjun Batu Dinding, butuh pendampingan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan sektor swasta.
“Kita harus bangun ekosistem wisata. Jangan berdiri sendiri. Bisa disinergikan dengan wisata budaya atau pertunjukan kearifan lokal agar pengunjung betah berlama-lama,” tambahnya.
Optimisme serupa disampaikan oleh Kepala Desa Tanjung Belit, Efri Desmi. Ia menjelaskan bahwa pengelolaan wisata di desanya dilakukan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada masyarakat melalui pemerintah desa.
“Selama ini, dukungan dari Pemda Kampar dan Pemprov Riau sangat baik. Tapi kami tetap berharap perhatian lebih, terutama untuk akses infrastruktur menuju objek wisata,” kata Efri.
Menurutnya, prestasi yang diraih menjadi bukti keseriusan warga dalam mengembangkan potensi wisata di desa. Tahun 2024, Desa Wisata Tanjung Belit masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), dan pada 2025 berhasil menembus tiga besar nasional dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) Award.
“Tantangan ke depan adalah menjaga hutan dan ekosistem di sekitar kawasan wisata Batu Dinding. Dengan keterbatasan kami di tingkat desa, kami berharap semua pihak bersatu menjaga kelestarian alam ini untuk anak cucu kita nanti,” ujarnya.Wisata alam Batu Dinding, terbilang memiliki fasilitas dasar yang lengkap, seperti mushola, toilet, gazebo, pos jaga, dan perahu wisata. Tiket masuknya hanya Rp10.000 per orang dengan rata-rata kunjungan sekitar 3.000 orang per bulan.
Namun, di balik geliat itu, pesan pelestarian tetap menjadi napas utama. Menurut Supartono, pengembangan ekowisata tak hanya soal menarik wisatawan, tetapi juga menjaga harmoni antara manusia dan alam. “Hal yang sederhana kalau dikelola dengan baik bisa menarik banyak orang. Tapi jangan sampai terlalu ramai, karena konsep ekowisata itu tentang kenyamanan dan keseimbangan,” tutupnya.
Reporter : Sahrim Malik Sihotang





