Pekanbaru, GREEN-Sejumlah komunitas bank sampah di Riau berkegiatan mengompos bersama Ibu Negara Iriana Jokowi dan Ibu Wuri Makruf Amin, Sabtu, 10 Juni 2023, pagi. Mereka ada di antara 100 kelompok peserta yang mengikuti aktivitas Kompos Satu Negeri oleh OASE, organisasi Ibu Negara bersama istri para menteri dan pejabat di Kabinet Indonesia Maju, melalui fasilitas konferensi video.
Para peserta komunitas bank sampah dikoordinatori oleh Pusat Pengendalian Pembangunan Ekorogion (P3E) Sumatera yang berkantor di Pekanbaru. Masing-masing kelompok tersebut Bank Sampah Agrowisata Ibnu Almubarok di Kecamatan Rumbai Barat; Pekanbaru, Bank Sampah Hijau di Kelurahan Tobek Godang di Kecamatan Binawidya; Pekanbaru dan Bank Sampah Cinta Lestari dari Kecamatan Tambang; Kabupaten Kampar.
Sekira 60 orang anggota komunitas-komunitas itu selama lebih kurang satu setengah jam mengompos bersama dalam momen bertajuk Kompos Satu Negeri. OASE memusatkan kegiatan di Istana Tampak Siring, Ubud, Bali.
Secara dalam jaringan (daring), kegiatan bertemakan Gerakan Hidup Minim Sampah diikuti secara menyeluruh se-Indonesia. Lengkap perwakilan 38 provinsi hadir dan mengikuti kegiatan yang dimulai pukul 06.30 WIB guna memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh tanggal 5 Juni setiap tahunnya serta meneruskan kegiatan serupa pada Compost Day dalam rangka peringatan Hari Peduli Sampah Nasional pada 26 Februari 2023 lalu.
Pengomposan bersama serentak se-Indonesia menghasilkan dua macam kompos, padat dan cair (pupuk organik cair/POC). Pada kesehariannya, tiga komunitas di Riau tersebut juga menghasilkan produk yang sama, yakni kompos padat dan POC. Ditambah lagi eco enzyme, budidaya magot dan pemanfaatan non-organik untuk diolah kembali atau dijual kepada pengepul barang bekas.
"Ibu-ibu yang saya sayangi di seluruh Indonesia, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Tahun 2023, saya mengajak ibu-ibu di 38 Provinsi di seluruh Indonesia untuk mengompos bersama," ucap Ibu Iriana saat memulai kegiatan Kompos Satu Negeri.
"Ibu-ibu yang saya sayangi di seluruh Indonesia, dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Tahun 2023, saya mengajak ibu-ibu di 38 provinsi di seluruh Indonesia untuk mengompos bersama," ucap Iriana memulai kegiatan. Pada saat itu Ibu Negara didampingi Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Wamen LHK) Lilia A Dohong dan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 Rosa Vivien.
Disampaikan Suharyanto, Kepala Bidang (Kabid) Evaluasi Pengendalian Pembangunan Ekoregion P3E Sumatera, visi kegiatan pengomposan adalah mengurangi sampah dari sumbernya, sehingga pengelolaan sampah rumah tangga dan organik harus masif. Untuk meraih hal tersebut, kompos dipilih karena bisa diterapkan hingga ke tingkat sosial terkecil yakni keluarga.
Pola Pikir
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui media sosialnya menyampaikan, Kompos Satu Negeri bertujuan merubah pola pikir (mindset) masyarakat dalam mengelola sampah, khususnya sampah organik yang berasal dari sisa makanan.
Iriana juga menyampaikan bahwa kegiatan mengompos penting dalam upaya menyelesaikan masalah sampah organik atau sisa makanan. "Penuntasan masalah sampah bukan hal yang mudah, oleh karenanya composting atau membuat kompos merupakan pendekatan penanganan sampah organik yang tidak mahal, namun banyak manfaatnya," katanya.
"Metode kompos itu mudah dan tidaklah mahal, namun hasilnya sangat bermanfaat sekali bagi lingkungan. Hanya perlu mencoba dan kemauan saja untuk memulainya. Semoga membuat kompos ini dapat terus berkelanjutan dan secara mandiri."
Di antara kegiatan, Ibu Negara berkomunikasi langsung dengan lima perwakilan peserta, yang salah satunya adalah Rinwiningsih, pengelola Bank Sampah Agrowisata Ibnu Almubarok. Ia sempat ditanyakan sumber sampah yang dikelola tiap harinya, berapa banyak produksi setiap bulannya dan lain-lain.
Rinwiningsih menceritakan bahwa kelompoknya mengumpulkan sampah sisa makanan dan sampah plastik, botok, kemasan dan lainnya dari pondok pesantren yang juga dikelolanya serta pengumpulan dari rumah tangga-rumah tangga di seputaran kelurahan di mana mereka berdomisili. Mereka telah rutin melaksanakan kegiatan sejak tahun 2000-an.
Setiap bulan, mereka menghasilkan lebih kurang satu ton pupuk padat. Hasil itu dimanfaatkan oleh pesantren atau warga sekitar untu tanaman-tanaman yang mereka budi dayakan. Sebagian lagi ada yang dijual, bahkan mereka memiliki pelanggan dari Kota Batam.
Kepada Bank Sampah Almubarok juga ditanyakan jenis-jenis pengelolaan sampah yang selama ini dilakukan. Rinwiningsih menjelaskan bahwa mereka mengupayakan pengelolaan sampah 3R yaitu reduce, reuse dan recycle secara menyeluruh. Selain terkait kompos atau sampah organik seperti dikemukakan di atas, mereka juga mengumpulkan plastik sampah atau kemasan plastik lainnya untuk diolah menjadi beragam produk, mulai dari tas, pouch, topi, celemek dan lain sebagainya. (din)





