Green Radio Line, Pekanbaru - Forum Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Green Cities Mayors' Council (GCMC) dinilai perlu dimanfaatkan sebagai momentum untuk merancang konsep pembangunan kota hijau yang sesuai dengan karakter wilayah tropis.
Pengamat Tata Kota Universitas Riau, Muhammad Ikhsan, mengatakan kota-kota yang tergabung dalam kawasan IMT-GT memiliki karakter dan tantangan perkotaan yang relatif serupa. Kondisi tersebut dapat menjadi dasar untuk membangun pendekatan bersama dalam mengembangkan kota hijau yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di kawasan tropis.
Menurutnya, konsep kota hijau tidak bisa hanya mengadopsi pendekatan dari negara-negara Eropa atau Amerika Utara yang memiliki karakter iklim empat musim.
“Kota-kota di kawasan IMT-GT memiliki tantangan yang hampir sama, mulai dari curah hujan yang tinggi, suhu udara yang panas, hingga tekanan urbanisasi. Konsep green city untuk kawasan tropis tentu berbeda dengan negara empat musim. Yang harus dijawab terlebih dahulu adalah persoalan yang benar-benar menghadap masyarakat kota,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Ia menilai tiga program yang digunakan Pemko merupakan langkah positif. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada urutan prioritas pembangunan. Kota hijau, kata dia, seharusnya lebih dulu menyelesaikan persoalan banjir, pengelolaan sampah, transportasi publik, serta meningkatnya suhu perkotaan akibat perubahan iklim.
Salah satu yang menjadi sorotannya adalah pembangunan ruang terbuka hijau. Menurut Ikhsan, fungsi utama RTH bukan sekedar mempercantik wajah kota, melainkan menjadi infrastrukturs yang mampu menyerap air hujan sehingga mengurangi potensi banjir.
"RTH yang dibangun haruslah RTH yang bisa menyerap sebanyak mungkin udara ketika hujan. Jangan berharap pada pembangunan RTH dengan tugu-tugu sebagai ikon. Itu hanya akan menjadi taman RTH yang mungkin indah dipandang, tetapi tidak ada maksud RTH yang sebenarnya yaitu sebagai tempat menyerap udara dan mengurangi potensi banjir," katanya.
Ia menyarankan pemerintah memanfaatkan ruang-ruang kosong, sempadan sungai, sempadan jalan, serta penerapan biopori, sumur resapan, bioswale, dan rawa buatan agar RTH benar-benar berfungsi sebagai kawasan resapan udara.
Ikhsan juga menilai konversi armada TMP menjadi bus listrik merupakan langkah yang baik. Namun, menurutnya, persoalan utama transportasi di Pekanbaru bukan semata-mata penggunaan energi, melainkan rendahnya minat menggunakan angkutan masyarakat umum.
“Konversi TMP menjadi bus listrik boleh-boleh saja.Tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana supaya warga kota bisa sebanyak mungkin menggunakan TMP,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan perluasan jangkauan layanan, penambahan armada feeder, peningkatan frekuensi perjalanan, serta memperpendek waktu tunggu agar transportasi umum menjadi pilihan utama masyarakat.
Hal serupa juga disampaikan terkait rencana pengembangan waste to energy. Menurut Ikhsan, teknologi tersebut memang menjadi cita-cita pengelolaan sampah modern, namun penerapannya harus didahului pembenahan sistem pengelolaan sampah dari hulu.
Ia menilai edukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah, penerapan konsep 3R (reduce, reuse, recycle), serta pemulihan pengelolaan sampah di tingkat komunitas harus menjadi prioritas sebelum mengembangkan teknologi yang membutuhkan investasi besar.
"Waste to energy juga boleh-boleh saja. Ini adalah konsep yang paling ideal. Tapi sebelum itu, pendidikan dan sosialisasi tentang pengelolaan sampah yang benar dari hulu sampai hilir harus menjadi kesadaran bersama seluruh komponen dari pemerintah, swasta, dunia pendidikan, masyarakat sampai tingkat terbawah," katanya.
Ikhsan berharap penyelenggaraan GCMC IMT-GT tidak berhenti sebagai forum berbagi pengalaman antarkota. Menurutnya, kerja sama tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kolaborasi riset dan penyusunan kebijakan bersama mengenai pembangunan kota tropis yang tangguh menghadapi perubahan iklim.
Pemerintah Kota Pekanbaru sendiri sebelumnya mendorong agar forum IMT-GT menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi lintas negara dalam menangani permasalahan pembangunan perkotaan dan lingkungan.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan penyelenggaraan IMT-GT di Pekanbaru diharapkan tidak berhenti pada pertemuan dan pertukaran aspirasi, namun dapat menghasilkan kerja sama konkret antara Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
“Alhamdulillah acaranya berjalan dengan baik dan tentunya bisa berkumpul, berkolaborasi dan bertukar aspirasi yang tidak hanya sebatas pada forum ini saja tetapi kita sudah melakukan kerjasama agar bagaimana sekretariat IMT GT bisa memfasilitasi kolaborasi antara Indonesia, Malaysia dan Thailand terkait dokumen maupun tentang inovasi yang ada di setiap daerah masing-masing,” kata Agung, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan Pemko Pekanbaru telah mendorong Sekretariat IMT-GT untuk memfasilitasi pertukaran dokumen dan inovasi antardaerah. Menurutnya, kolaborasi lintas negara penting karena persoalan lingkungan, termasuk sampah, merupakan persoalan yang dihadapi berbagai negara.
“Kesimpulannya adalah secara bersama kita sepakati bahwa menjaga alam sama artinya dengan meninggalkan masa depan yang baik untuk anak anak kita kedepannya,” ujarnya
Reporter : Sahrim M.Sihotang





