PEKANBARU- Sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia saat ini semakin dilirik keberadaannya baik oleh pemerintah, masyarakat, maupun pelaku usaha. Selain merupakan energi yang ramah lingkungan, energi baru terbarukan sendiri merupakan peluang usaha yang menjanjikan kedepannya. Energi terbarukan juga merupakan salah satu cara dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang ada di Indonesia. Hal inilah yang diungkap oleh Ketua Asosiasi Biogas Indonesia (ABgI) sekaligus Vice Chairman Asia Pacific Bio Gas Alliance (APBG), Dr.-Ing. M. Abdul Kholiq, Msc saat menjadi pembicara dalam acara webinar “Green Environment’s Millenial in Action”, Kamis (03/09/2020).
Berdasarkan pada Perpres No. 27 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Pemerintah Indonesia menargetkan 23 persen bauran energi terbarukan pada tahun 2025, dengan 489,8 juta M3 adalah target biogas nasional.
Energi biogas merupakan sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan akan listrik, bahan bakar kendaraan, sampai bahan bakar untuk memasak. Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau fermentasi dari bahan – bahan organik termasuk di antaranya; kotoran hewan dan manusia, limbah domestik (rumah tangga), limbah industri, dan sampah biodegradable (bisa terurai atau hancur) dalam kondisi anaerobik.
Menurut Abdul Kholiq, penerapan teknologi biogas dari limbah ini dapat dilakukan dalam skala komunal/rumah tangga dan bisa juga dilakukan dengan skala besar. Pada skala rumah tangga sesuai dengan data yang diterbitkan oleh Ditjen Bioenergi per tanggal 29 Mei 2020, biogas yang sudah terpasang mencapai 47.505 unit di seluruh wilayah Indonesia dengan menghasilkan biogas sebanyak 75.044,2 M3 per harinya atau sekitar 26,72 juta M3 per tahun. Sementara itu, untuk pemanfaatan biogas komunal pesantren, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah membangun biogas komunal di 20 pesantren yang tersebar di 10 provinsi sejak tahun 2016.
“Pembuatan biogas skala komunal/rumah tangga sendiri dapat memanfaatkan bahan – bahan utama yang di dapatkan dari kotoran sapi, limbah tahu tempe, ataupun memakai sampah pasar (organik). Salah satu contoh pemanfaatan biogas yang dilakukan PT SWEN di Jawa Barat, yakni memanfaatkan biogas dari bahan pokok kotoran ternak untuk bahan bakar kompor, traktor, dan sebagainya,” tukasnya.
Selanjutnya, Abdul Kholiq juga mengatakan bahwa air limbah kelapa sawit merupakan bahan utama yang paling berpotensi dalam penerapan teknologi biogas skala besar di Indonesia. Ini dibuktikan dengan adanya 875 pabrik kelapa sawit yang tersebar di seluruh Indonesia. Satu pabrik kelapa sawit bisa menghasilkan 30 ton per jam tandan buah segar (FFB) yang diolah, dimana sekitar 8% merupakan volume air limbah. Dengan kapasitas 30 ton per jam tandan buah segar (FFB) ini apabila diubah menjadi biogas yang nantinya akan dimanfaaatkan sebagai sumber energi listrik bisa menghasilkan 1 mega watt, dimana per 500 kilowatt-nya dapat dimanfaatkan oleh 2000 kepala keluarga.
“Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa pabrik kelapa sawit yang mulai melakukan penerapan teknologi biogas. Sebagai contohnya adalah, pembangkit listrik tenaga biogas yang merupakan hasil kerja sama anatara PT Perkebunan Nusantara V dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sudah resmi beroperasi di pabrik kelapa sawit Terantam PTPN V di Kabupaten Kampar, Riau sejak Maret 2019,” tukasnya.





