Green Radio Line, Pekanbaru - Di tengah bentang alam kawasan konservasi Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, Masyarakat Tanjung Belit perlahan membangun harapan baru melalui pengembangan ekowisata berbasis masyarakat. Bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), berbagai destinasi mulai dikembangkan secara bertahap sejak 2020, diantaranya Air Terjun Batu Dinding dan Pulau Tonga yang kini dikenal sebagai lokasi wisata petualangan dan camping. Bahkan Pulau Tonga masuk nominasi 10 besar API Award Indonesia kategori wisata petualangan.
Kehadiran wisata tersebut tidak hanya memperkenalkan potensi alam Riau, tetapi juga mulai menggerakkan ekonomi masyarakat melalui penyediaan konsumsi warga, jasa penyeberangan sampan, hingga keterlibatan anak anak muda sebagai pemandu wisata lokal.
Ketua Pokdarwis Tanjung Belit, Dedi Irawan, menjelaskan bahwa pengembangan wisata tersebut berawal dari kepercayaan yang diberikan oleh tokoh masyarakat, Ninik mamak, kepala desa serta hasil musyawarah desa. Berbekal dukungan masyarakat dan semangat gotong royong, para pemuda mulai membenahi destinasi wisata secara swadaya dengan fokus awal Air Terjun Batu Dinding yang menjadi salah satu favorit wisatawan di kawasan tersebut. Dari hasil pengelolaan tiket wisata, masyarakat kemudian mulai membangun fasilitas dasar seperti akses jalan, toilet, penerangan hingga sarana penyeberangan untuk mendukung kenyamanan pengunjung.
“Jalan kami servis dua kali setahun. Itu dari uang wisata juga,” ujar Dedi.
Kini perubahan mulai terasa di desa tersebut. Pendapatan wisata disebut mencapai Rp 30 juta hingga Rp 60 juta per bulan, di luar paket wisata khusus yang melibatkan warga sebagai pemandu, penyedia transportasi sungai hingga penyedia konsumsi.
Pokdarwis kemudian membagi hasil pendapatan itu untuk pengurus dan desa. Sebagian dana dipakai membangun fasilitas wisata, mendukung kegiatan kepemudaan hingga patroli hutan adat oleh dubalang adat dari masing-masing suku.
“Kalau ekonomi masyarakat bergerak, masyarakat tidak akan merambah hutan,” kata Dedi.
Ia menyebut sebagian masyarakat sebenarnya tidak ingin terus bergantung pada aktivitas penebangan kayu di hutan. Namun selama ini, pilihan pekerjaan di sekitar kawasan konservasi masih terbatas.
“Mereka berhari-hari di hutan, jauh dari keluarga, tapi hasilnya juga tidak lebih. Sebenarnya mereka terpaksa,” ujarnya.
Model pengelolaan wisata berbasis masyarakat ini pun mulai menjadi perhatian pemerintah daerah. Pemerintah melihat pola pengelolaan tersebut sebagai ekowisata berbasis konservasi, dimana pelestarian alam dapat berjalan beriringan dengan peningkatan ekonomi masyarakat.
Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Riau, Abdul Madian, mengatakan pemerintah selama ini menghadapi keterbatasan untuk membangun fasilitas fisik di kawasan konservasi karena terbentur regulasi dan kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, pemerintah daerah tetap berupaya memberikan dukungan melalui berbagai program, seperti capacity building, pelatihan bagi Pokdarwis, pendampingan desa wisata, hingga dukungan pengembangan guest house dan Glamping berbasis alam.
Menurutnya, pendekatan ekonomi hijau menjadi salah satu alternatif. Hal tersebut juga dapat diperkuat dengan prjtwn GREEN for Riau dan skema benefit sharing mechanism yang tengah dikembangan. Skema tersebut diharapkan dapat menjadi peluang dukungan bagi masyarakat yang menjaga kawasan hutan sekaligus mengembangkan ekonomi lokal.
“ Mudah mudahan masyarakat hang menjaga hutan dan menggerakkan ekonomi ini mendapatkan penghargaan berbasis kinerja lingkungannya,” ujar Abdul Madian.
Menurutnya, Riau juga perlu mencari sumber pertumbuhan ekonomi selain dari migas, sawit, dan sektor perkebunan lainnya. Di tengah besarnya potensi alam yang dimiliki, sektor wisata dinilai masih memiliki kontribusi yang sangat kecil terhadap perekonomian daerah.
Pemerintah Kabupaten Kampar sendiri disebut telah menyusun master plan pengembangan Desa Wisata Batu Dinding di kawasan hutan adat seluas sekitar 300 hektar. Dedi berharap rencana itu nantinya dapat menjadi landasan pembangunan fasilitas wisata dan pusat ekonomi kreatif masyarakat. Ia membayangkan suatu hari nanti wisatawan yang datang ke Batu Dinding tidak hanya menikmati air terjun dan hutan Rimbang Baling, tetapi juga membawa pulang produk UMKM masyarakat di sepanjang Sungai Subayang.
“Kami ingin masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari kekayaan alam Rimbang Baling,” kata Dedi.
Ia menyebut program Green Initiative for Riau dan skema benefit sharing mechanism yang tengah disiapkan pemerintah dapat menjadi peluang pendanaan alternatif bagi desa-desa yang berhasil menjaga kawasan hutan sekaligus meningkatkan ekonomi warga.
Reporter : Sahrim. M. Sihotang
Foto : GRL





