Newsroom    15 Desember 2025

Cerita Mencekam Warga Dusun Tamansari, Batangtoru Saat Banjir, Rumah Hancur Dan Nyaris Hanyut Terbawa Arus

Green Radio Line, Pekanbaru - Banjir dan longsor menyapu ludes pemukiman warga di Dusun Tamansari, Desa Hapesung Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada Selasa (25/11/2025). Bencana ini terjadi dua kali dalam kurun waktu kurang dari 24 jam setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak sehari sebelumnya.

Walaupun kejadian itu sudah tiga pekan berlalu, efek trauma dan ketakutan masih dirasakan warga. Rantina, warga Dusun Tamansari, Batangtoru menceritakan kisah mencekam detik detik banjir bandang menghantam rumahnya

Rantina bercerita, waktu itu, air sungai mula-mula hanya naik perlahan. Selasa pagi, 25 November 2025, sekitar pukul 09.00 WIB, warga Dusun Tamansari, Desa Hapesung Baru, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, berbondong-bondong mendekat ke tepi sungai. Mereka ingin memastikan kabar yang beredar soal air yang mulai meluap.

Waktu banjir pertama, warga tak khawatir. Mereka mengira itu banjir biasa, layaknya banjir tahunan yang melanda kampungnya. Para warga mulai sibuk menyelamatkan barang barang berharga, 

Dua jam berselang, sekitar pukul 11.00 WIB, banjir besar tiba tiba datang. Air naik dengan cepat hingga setinggi leher orang dewasa, air mengalir deras. Sejumlah batang kayu ikut hanyut terbawa aliran sungai.

“Dari masjid sudah ada yang bilang, ayo pergi, air sudah besar,” kenangnya.

Setelah pengumuman itu, warga mulai panik, sibuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi, tak jauh dari pemukiman. 

Namun, Rantina memilih bertahan sejenak. Sebagai petani dan ibu, pikirannya tertuju pada anak-anak dan harta yang masih bisa diselamatkan. Padi dan barang-barang rumah tangga ia naikkan ke tempat yang lebih tinggi. Air terus merambat masuk, sementara hujan tak kunjung berhenti.

Saat hendak keluar dari kampung, Rantina dan suaminya nyaris terseret arus banjir. Kondisi Rantina dan suami yang sudah lansia, menyulitkan mereka untuk keluar. Ditambah, suami Rantina sudah sakit sakitan, kaki dan tangan tak kuat menopang tubuh. 

Kondisi air yang sudah mencapai leher serta derasnya arus membuat mereka kesulitan menyelamatkan diri. Beruntung, warga lain datang membantu menggunakan tali sehingga keduanya berhasil dievakuasi.

Dengan penuh tekad, Rantina terus menyemangati suaminya yang menahan sakit terkena kayu. “Pegang, Pak, pegang. Kita harus bisa keluar dari kampung ini,” ucap Rantina kala itu.

Ia bersyukur banjir terjadi pada siang hari. “Alhamdulillah, biarpun kita banyak yang hanyut, disyukuri kejadiannya siang, kalau malam, kita nggak tahu lah, kurasa warga warga banyak yang korban,” katanya pelan menahan tangis. 

Hujan memang telah turun tanpa jeda sejak sehari sebelumnya. Saat banjir pertama mereda tengah malam, warga sempat kembali ke rumah untuk menyelamatkan sisa barang. Namun, sekitar pukul 03.30 dini hari Rabu, banjir kembali datang. Gelombang kedua ini bertahan hingga sore hari.

“Di sini di pondok pondok ini, kami bikin tenda tenda lah, ya Allah sampai kek mana lah, apa di sisai lah kampung kami ini ya Allah”. 

“Giliran rumah siapa lagi yang kamu ambil ya Allah, itu lah sampai kita pasrah aja sama yang kuasa, mudah mudahan disisain, ini lah yang sisa sekarang,” ucap Rantina menunjuk puing puing rumahnya. 

Akibat banjir tersebut, banyak rumah warga rusak berat dan tidak lagi bisa dihuni. Warga mendirikan tenda-tenda darurat di sekitar pondok yang masih tersisa sambil menunggu kondisi membaik.

Di dusun itu pula, Bisnam (77) kehilangan hampir segalanya. Rumahnya hanyut, hanya menyisakan puing puing bata, bangunan dan seisinya runtuh, hanyut terbawa arus.  

Yang tersisa hanya sumur tua di bekas tapak bangunan. Ia keluar hanya membawa badan. Sungai yang dulu jauh dari rumah, kini telah membelah rumahnya, membawa hanyut harapan dan ketenangan di umurnya yang sudah tua. 

“Dulu sungai itu masih ke sana,” katanya menunjuk ke kejauhan, ia tak kuasa menahan tangis. 

Bisnam, Rantina dan warga kini ti tinggal di posko pengungsian. Sebagian warga lainnya memilih mengungsi ke rumah tetangga yang tak kena banjir.

Liputan : Sahrim M. Sihotang 

Foto     : Elsa Yolanda

Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2026. Green Radio Line