Newsroom    15 Oktober 2020

Begini Aksi Dini Kurangi Ancaman Bencana Hidrometeorologi

PEKANBARU- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sepanjang 1 Januari hingga 2 Oktober 2020, kejadian bencana mencapai 2.162 di seluruh Indonesia. Mayoritas bencana yang terjadi, berkaitan dengan hidrometeorologi seperti banjir, angin puting beliung dan tanah longsor.

Untuk itu, aksi dini dalam menghadapi ancaman bencana terus digalakkan melalui strategi Forecast Based Early Action (FbA), Impact Based Forecast (IBF), dan Indonesian Scenario Assesment for Emergencies (InaSAFE),  demikian kesimpulan satu acara peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana bertema Aksi Dini Berdasarkan Prakiraan Dampak Banjir di Indonesia, Rabu (14/10).

Muhammad Fadli, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan potensi Bencana di Indonesia mengintai sepanjang tahun. Diprakirakan memasuki musim hujan di bulan Desember, Januari 2021, dan Februari akan berpotensi terjadinya banjir, longsor, gelombang tinggi, banjir bandang, dan badai.

Peralihan di bulan Maret, April, dan Mei dilanjutkan September, Oktober, dan November berpotensi puting beliung, hujan es, dan hujan badai. Selanjutnya, memasuki musim kemarau di bulan Juni, Juli, dan Agustus maka berpotensi terjadi kebakaran hutan, kekeringan, dan gelombang tinggi.

Palang Merah Indonesia (PMI) bekerjasama dengan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IRFC) menggunakan informasi prakiraan dampak akibat iklim dan cuaca ekstrim atau lebih dikenal dengan FbA untuk mendorong pencairan dana tepat waktu sebagai aksi dini penyelamatan pada masa siaga darurat. PMI melalui strategi FbA juga membantu pemerintah meningkatkan perilaku adaptif dalam merespon bencana yang akan terjadi.

“Kita punya waktu yang namanya siaga darurat. Kita gerakkan masyarakat untuk bisa melakukan upaya mandiri maupun kolektif, menyelamatkan jiwa, harta benda, asset dan sumber penghidupan sebelum bencana terjadi,” ujar Arifin Muh. Hadi, Kepala Divisi Penanggulangan Bencana PMI Pusat.

Di sisi lain, IBF atau sistem informasi prakiraan cuaca berbasis dampak disematkan di platform BMKG Signature untuk menyampaikan informasi cuaca disertai dampak yang akan ditimbulkan, dan respon yang perlu dilakukan. Misalnya, pada saat BMKG menginformasikan adanya potensi hujan maka disertai dengan prakiraan dampak yang terjadi berupa luapan air dan banjir bandang. Sehingga strategi mitigasi yang bisa dilakukan adalah membangun sistem pengaturan aliran air, demikian disampaikan oleh Muhammad Fadli.

Aksi serupa lainnya untuk mendorong kesiapsiagaan menghadapi bencana dapat dengan menggunakan platform InaSafe oleh BNPB. Bedanya, platform ini menampilkan dampak dan tindakan yang harus diambil dalam kondisi siaga darurat dengan paparan data yang tersedia seperti sebaran populasi penduduk, jalan raya, dan infrastruktur lainnya. 

Bambang Surya Putra, Kepala Pusat Pengendali Operasi BNPB menjelaskan beberapa tahun belakangan mereka juga mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk turut membantu dalam pemetaan bencana. Khususnya memetakan daerahnya masing-masing dalam platform InaSafe.

Reporter: CR-01

Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2026. Green Radio Line