Oleh: Dina Febriastuti
Penelitian dan jurnal-jurnal ilmu pengetahuan belakangan ini makin ramai menyebutkan bahwa faktor-faktor penyebab emisi gas rumah kaca dari aktivitas yang dilakukan manusia sangat banyak. Tidak hanya dari pembakaran energi yang diperlukan di berbagai sektor industri, namun juga kegiatan yang terkait dengan alam dan pertanian.
Alden D Smartt, Kristofor R Brye and Richard J. Norman dalam artikelnya berjudul 'Methane Emissions from Rice Production in the United States — A Review of Controlling Factors and Summary of Research' menyebutkan bahwa kegiatan pertanian telah diakui berkontribusi sekitar 50 persen terhadap emisi CH4 antropogenik (metana yang dihasilkan dari aktivitas manusia, red) global. Penelitian Smartt dan kawan-kawan ini dapat diperiksa dalam www.intechopen.com/chapters/49649, platform yang menyajikan hasil-hasil karya peneliti dan juga jurnal serta memublikasinnya. Karya yang diterbitkan pada Maret 2016 itu telah pula publikasikan melalui buku.
Smartt dan kawan-kawan (dkk) menjelaskan, kondisi anaerobik yang terbentuk di tanah dengan tanaman padi sawah itu bersifat jenuh. Itu merupakan prasyarat untuk produksi CH4, sehingga budidaya padi tergenang (Oryza sativa L) telah secara khusus diidentifikasi sebagai salah satu sumber emisi CH4 antropogenik pertanian global terkemuka. Besarannya terhitung sekitar 22 persen dari total emisi CH4 terkait pertanian global.
Mereka juga berkesimpulan, produksi beras global bertanggung jawab atas 11 persen total emisi CH4 antropogenik. Sementara, Dina Umali Deininger dalam artikelnya berjudul 'Greening the Rice We Eat' yang diterbitkan di blogs.worldbank.org/eastasiapacific/greening-rice-we-eat menyampaikan bahwa Asia Tenggara sebagai salah satu 'mangkuk' nasi utama dunia, budidaya padi menyumbang sebanyak 25 sampai 33 persen emisi metana di kawasan.
Kemudian, publikasi katadata.co.id pada 28 Februari 2023 menyebutkan, International Energy Agency (Badan Energi Internasional/IEA) memperkirakan emisi metana di seluruh dunia pada 2022 mencapai 580 juta ton. Sekitar 40 persennya merupakan emisi metana alami dari gambut atau lahan basah (wetland), sedangkan 60 persen merupakan emisi metana antropogenik dari hasil aktivitas manusia.
Sektor pertanian dan energi menyumbang emisi metana antropogenik paling banyak. Di luar itu, ada pula emisi dari penimbunan sampah dan pembakaran biomassa dengan porsi yang lebih kecil.
"Metana bertanggung jawab atas sekitar 30 persen kenaikan suhu global sejak Revolusi Industri," kata IEA dalam laporan Global Methane Tracker 2023. "Meski metana memiliki umur di atmosfer yang lebih pendek dibanding karbon dioksida, metana menyerap lebih banyak energi panas."
IEA juga mencatat, Indonesia merupakan salah satu dari 10 negara penghasil emisi metana antropogenik terbesar. Berikut daftar lengkapnya:
1. Tiongkok: 55,7 juta ton
2. Amerika Serikat: 31,8 juta ton
3. India: 29,7 juta ton
4. Rusia: 24,4 juta ton
5. Brasil: 20 juta ton
6. Indonesia: 14,3 juta ton
7. Pakistan: 7,7 juta ton
8. Iran: 7,4 juta ton
9. Nigeria: 6,6 juta ton
10.Meksiko: 6,1 juta ton
Sulaiman, Sibli, Ali Mukhni dan kawan-kawan di Kecamatan Keritang serta Sukadi dan kawan-kawan di Kecamatan Reteh, Kabupaten Idragiri Hilir (Inhil) telah mencoba pola pertanian yang berbeda pada lahan-lahan padi mereka. Sesungguhnya sudah ada 10 tahun lebih mereka tidak lagi memakai pola pengolahan lahan dengan olah tanah. Mereka telah mencoba sistem pertanian tanpa olah tanah (TOT).
Mulsa
Belakangan, mereka lebih maju lagi, dengan memakai pola mulsa tanpa olah tanah. Di sini, mereka tidak melakukan pembajakan sawah untuk memulai masa tanam baru. Demikian pula, persawahan mereka tak menantikan air yang cukup untuk memulai penanaman.
"Kalau tentang penerapan TOT, kami sudah ada sepuluh tahunan tak pakai TOT. Memang sudah ada penyuluhannya waktu itu," kata Ali dalam percakapan ringan sebelum mendatangi satu area pertanian di Kecamatan Keritang, 16 Juli 2023.
Sukadi yang telah menerapkan pertanian mulsa tanpa olah tanah menyatakan bahwa pola ini lebih meringankan pekerjaannya. "Kita tak perlu lagi membajak sawah dan memberikan pupuk sebelum melakukan penanaman," ujarnya.
Ia cukup meletakkan sisa-sisa batang padi dari panen terdahulu di atas bedengan. Dalam rentang waktu sekira seminggu, penanaman sudah bisa dilakukan.
Irit dan Berhasil
Pola pertanian seperti ini diakuinya para petani selain lebih irit tenaga, mudah untuk diterapkan, irit biaya dan membawa hasil yang lebih baik.
Soal irit tenaga, kesaksian lain diberikan Sulaiman yang juga mengolah lahannya untuk bertanam holtikultura, yakni jenis terung-terungan. Ia menungkapkan, setelah lebih kurang satu bulan menanam, ia mulai memanen tanaman terungnya.
"Mengerjakan pertanian ini lebih gampang karena tak ada pembajakan atau olah tanah. Kemudian, penyiangan sangat minim dan bahkan bisa dikatakan tidak ada. Hanya menyiangi di luar bedengan saja kalau mau tidak terlalu bersemak. Saya juga tak harus menyiram tiap hari. Paling cuma sekali seminggu, karena mulsa itu membuat tanah tetap lembab," kata Sulaiman.
Hal yang sama diungkapkan Sukadi. Ia tak harus membajak, membolak-balik tanah, memupuk, menyiangi dan menjaga pengairan.
"Saya bisa membandingkan, tanaman yang ditanam dengan pola mulsa tanpa olah tanah juga lebih berhasil dan mendatangkan nilai ekonomi sangat baik. Saya, kan, membuat upaya perbandingan, dengan menanam dua pola itu secara bersamaan. Hasilnya, terung dari pola mulsa tanpa olah tanah sudah panen tujuh puluhan kilogram. Sementara, dengan pola biasanya itu hasilnya baru dua puluh lima kilogram," demikian lanjutan keterangan Sulaiman tentang nilai ekonomis pertaniannya.
Pola tanam tersebut saat ini dikembangkan oleh Yayasan FIELD Indonesia dalam program Udara Bersih Indonesia (UBI). Mulsa tanpa olah tanah adalah satu di antara empat pola pertanian yang dikembangkan dan diperluas penerapannya di pertanian Indonesia oleh FIELD.
"Selainnya ada lagi ayam seresah dalam. Ini adalah pola pengomposan alami atau organik. Cara ini jauh lebih ringan kerjanya dibandingkan dengan pengomposan alami yang biasa dilakukan para petani. Kalau itu, kan, capai.. Pupuk dibolak-balik berhari-hari menggunakan tenaga para petani. Capai itu," ungkap Engkus Koeswara, Manajer Program Sumatera Yayasan FIELD Indonesia, akhir pekan lalu.
Di sini pupuk kompos akan dihasilkan dari kotoran ayam yang telah diberi sisa-sisa daun atau batang tanaman serta serbuk-serbuk seperti serbuk gergaji yang ditumpuk di atas kotoran ayam di bawah kandang. Ayam-ayam tersebut akan membantu membolak-balikkan kotoran dan serbuk atau sisa-sisa tanaman yang kering itu, sehingga pada waktunya dapat dimanfaatkan menjadi pupuk.
Berikutnya ada pula pola produksi pupuk daun alami. Pupuk organik untuk daun ini dibuat dari campuran atau kocokan telur dengan cuka. Ukuran pasnya adalah dua banding satu. Hasil dari inilah yang kemudian akan disemprotkan ke dedaunan setelah lebih dulu dicampur dengan air dalam takaran tertentu pula.
Hugelkulture
Lalu, bagaimanakah dengan lahan baru yang belum terolah sebelumnya? Dalam hal ini, ada satu pola lagi yang khusus dimaksudkan untuk pengolahan lahan baru tebang. Disebut dengan hugelkulture.
Dalam pola hugelkulture, batang-batang pohon yang telah ditebang dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan untuk menyimpan. Simpanan sisa pohon ini akan menjadi nutrisi alami tanah dan tentunya akan menambah unsur haranya.
Jika tidak memungkinkan untuk menimbunnya karena ukuran yang besar, maka bisa saja diletakkan begitu saja di posisi yang pas. Kemudian batang-batang pohon itu diberi tambahan atau disiram-siram dengan tanah yang ada di sekelilingnya, sehingga ada penyatuannya dengan unsur tanah.
"Kita menyebutnya diaur-aurkan. Siram-siram dengan tanah yang ada di sekelilingnya. Setelah itu, biarkan saja," ungkap Engkus menjelaskan. Setelah itu, tanaman dapat ditanam di bedengan yang telah disiapkan.
"Dengan memanfaatkan metode ini, tidak perlu ada lagi gelondongan kayu ataupun ranting-ranting yang dibakar. Tentunya mengurangi pelepasan emisi ke udara," demikian Aryani Kodriyana, Fasilitator Program FIELD Riau menambahkan penjelasan.
Ia beralasan, itu karena cara pelaksanaannya adalah dengan menumpukkan gelondongan kayu, ranting dan serasah-serasah secara bertahap dalam lubang tanam sedalam 40 cm ataupun bisa juga di permukaan tanah dan menjadikan susunan tersebut sebagai bedengan media tanam.
"Dengan menerapkan metode ini kita bisa memperoleh bidang tanam yang lebih luas dan gelondongan kayu di bagian lapisan terbawah dapat menampung air lebih baik. Dari situ, ketika kita menanam tanaman di atasnya kita telah memiliki stok air."
Ia melanjutkan, di samping manfaat di atas, kita juga memiliki stok buku. Maksudnya, tanaman yang ditumpuk secara berlapis tadi akan mengalami penguraian secara bertahap menjadi zat yang sangat bermanfaat dan bernutrisi bagi tanaman yang ditanam di atasnya.
Aryani mengungkapkan, hingga saat ini telah ratusan petani yang mendapatkan sosialisasi, pengetahuan, pelatihan hingga praktik pertanian pola UBI tersebut. Mereka berasal dari dua kecamatan sebagaimana disebutkan di atas, Reteh dan Keritang di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
Jika pemakaian pola dimaksud terus diperluas, tentu diyakini dampak buruk pertanian terhadap efek gas rumah kaca atau emisi buruk berbagai gas seperti metan dan karbondioksida hingga perubahan iklim dapat direm lajunya. Hingga menjadi terkendali. (*)
Teks foto: Sukadi memperlihatkan bibit Batang Piaman yang akan ditanam dengan metoda mulsa tanpa olah tanah di salah satu lahan persawahannya di Desa Sanglar, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Ahad, 19 Juli 2023. (FOTO: Dina)





