Newsroom    15 Oktober 2020

Aksi di Balik Narasi

Kemarin lusa, di antara siang dan sore. Di tengah ingar-bingar kota, ratusan rakyat dan mahasiswa Riau melangkahkan kakinya bersama, melewati gedung-gedung yang agung, menyanyikan lagu tentang penindasan dan pembebasan.

Mereka yang telah memilih berhenti pada sebuah gedung, untuk menemui yang terpilih. Harapan-harapan dan permohonan kesejahteraan yang tak terhingga banyaknya, mereka bentangkan setinggi mungkin menghadap para elit pimpinan mereka.

Dari sekian banyak harapan dan permohonan itu, satu yang kulihat dan paling kuingat, serta aku rasakan kekuatannya, yaitu adalah tuntutan untuk hapus Omnibus Law Cipta Kerja.

“Aku sedang berdiri di tengah-tengah mereka. Ingin aku bersuara serupa pejuang-pejuang ini. Tapi, apalah daya? Hari ini aku hanyalah seorang jurnalis yang harus netral dan bersikap adil kepada setiap mereka. Baik pada mereka yang di sisi gedung atau pun kepada mereka yang ada di sisi jalan,” dalam hatiku waktu itu.

Lama sekali menunggu, tapi tak kunjung bertemu. Dari yang awalnya tertib, mereka mulai menjadi marah karena lelah rakyat yang haknya mereka bela. Suasana pun jadi tak kondusif. Polisi-polisi yang sejak tadi membatasi antara pemilih dan yang dipilih, seolah tak peduli pada rakyat dan anak-anak mereka. Mereka hanya menghadang siapa yang meradang.

Para polisi itu hanya berkata, “sabar,” yang entah di mana ujungnya, mereka pun tak tahu. Aku mendekat pada sebuah perbincangan kecil antara seorang mahasiswi dan bapak polisi paruh baya, kira-kira seumuran Ayahku.

“Apakah bapak memihak Omnibus Law, sehingga bapak membatasi kami masuk ke rumah pemimpin kami sendiri?” bisik gadis itu mendekati telinga si polisi. Seolah dia takut ada yang mendengar pertanyaannya yang jelas sedang menodong privasi seseorang. “Saya hanya menjalankan tugas saya,” tegas polisi itu dengan raut lembut di wajahnya.

Sebelum terpukau, aku kembali menyimak. “Tapi, bapak punya idealisme sendiri kan?” “Bapak pasti punya dong pendirian politik, yang menurut bapak benar dan salah,” mahasiswi itu kembali bertanya.

“Ya! Tentu saja. Tapi saya tidak bisa bilang itu di sini dan saat ini,” jawab pak polisi dengan sigap. Kemudian bapak polisi itu menambahkan sedikit candaan kepada si mahasiswi itu, “nanti saja pas ngopi-ngopi santai kita bicarakan tentang hal itu”.

Perbincangan itu teputus sampai di sana. Tapi, aku dengar mahasiswi itu belum berhenti berbisik-bisik penuh dengan terkaan antara rasa ibanya. “Pasti ia takut atasannya,” “kasian sekali polisi-polisi itu ada di bawah tekanan,” “miris nasibnya,” bisik si gadis sambil perlahan menjauh dari sisi polisi tadi.

Aneh rasanya. Apa yang tadi dia lontarkan dari mulutnya, terasa tak asing bagiku. Seolah aku ikut merasakan apa yang dia tuduhkan pada polisi itu.

Lalu muncul pemikiran, sepertinya aku mengalami hal yang sama dengan polisi tersebut. Tapi apa itu ya? Setelah kupikir-pikir, sebenarnya aku ingin sekali bersuara lebih memihak rakyat dan teman-teman mahasiswa yang seumuranku. Tapi, aku harus menjalankan tugasku bukan?

Tekanan tentu aku rasakan. Pikirku harus netral. Tapi tidak dengan hatiku yang terus bertolak dengan logikaku. Kecuali, mengenai tuduhannya tentang ketakutan pada atasan. Aku tidak takut pada atasanku, karena aku bukan aparat negara seperti polisi.

Aku jurnalis yang mesti berpikir netral, meski nuraniku punya kebenarannya sendiri. Aku dituntut untuk selalu mendengarkan juga kebenaran dari orang lain. Negara mestinya begitu. Kalau saja punya pemikiran untuk turut mendengarkan kebenaran dari rakyatnya, pasti hari ini aku sudah tidur pulas di ranjangku yang penuh buku fiksi dan keindahan pemikirannya.

Tampaknya aku terlalu banyak berpikir dan berkhayal tentang kedamaian di siang bolong melompong begini, hingga aku baru sadar bahwa kini seorang wakil pemimpin dan wakil rakyat Riau telah berdiri di hadapanku dan di hadapan para rakyatnya.

Kami akhirnya duduk juga, setelah sekian lama berdiri di atas keras aspal. Rakyat duduk, mahasiswa duduk, polisi duduk, kecuali beliau yang hendak bicara hal penting itu katanya.

Muncul pertanyaan, bukan soal kenapa dia berdiri, tapi kenapa dia sendiri. Di mana pemimpinnya dan pemimpin rakyat Riau ini? Pertanyaan itu terjawab dari sebuah kabar.

Kabarnya beliau sebagai klaster paling atas posisinya, sang Gubernur Riau, harus benar-benar menjaga jarak agar Korona tidak bergerak mendekati ia dan orang-orang sekitarnya yang juga bertugas di ruangan yang sama, Kantor Gubernur Provinsi Riau.

Kebenaran yang sebenarnya bukan itu tampaknya. Sebenarnya, aku atau mungkin juga dengan mereka yang ada di ruas-ruas jalan ini, juga takut. Tentu kami tak berarti kebal dengan pandemi ini. Mereka dan aku sama-sama menjalankan tugas dan hormat akan kewajiban.

Ada yang bersorak, “Apa salahnya Pak keluar? Apa bahayanya berdiri dari balik pagar gedung bapak itu, memakai alat pelindung diri (APD) yang lengkap, dijaga ketat aparat. Cukup keraskan suara bapak, lalu beberapa kami bisa mendengar apa yang kami semua ingin dengar,” tutur berani seorang mahasiswa dari tengah lautan aksi.

Tapi tentu saja, sesuai apa yang aku pikirkan, pasti tidak akan dihiraukan. Aku ikut duduk dengan tenang. Menyiapkan recorder. Berusaha sejenak santai sambil mengeluarkan botol minum dari tasku. Sebentar melepas masker dan melepas haus dalam beberapa tegukan saja.

Baru saja ketenangan dimulai, datang lagi kerusuhan menyusul. Begitulah aksi demonstrasi. Kalau tidak ricuh, bukan demo namanya.

Provokator tanpa sosok di mana-mana. Emosi berseliweran. Belum sempat yang terhormat menyampaikan keputusannya sebagai bentuk penghormatan atas berjam-jam lelahnya penantian rakyat, sekumpulan massa tiba-tiba menyerbu ke muka panggung jalanan itu.

Jika ditanyakan alasannya, hanya karena suara beliau tidak kedengaran ke seluruh ruas jalan, padahal sudah memakai toa. Sementara jika berbicara tentang kepuasan, memang tak ada habis-habisnya. Tidak puas dengan suara lepas, minta pakai toa, lalu minta lagi mikrofon.

Seperti membaca teks anekdot rasanya, permintaan itulah yang akhirnya membubarkan penantian yang begitu lelah. Banyak mereka atau bahkan juga aku ingin marah. Tapi bingung mau marah pada siapa. Pada yang bodoh karena mudah diprovokasi atau yang mengambil kesempatan untuk lari dari massa, lalu menghilang begitu saja tanpa kembali?

Bubar seketika. Rombongan rapat menjadi renggang. Sebab yang dinanti telah pergi atau bahkan takkan kembali. 

Seperti suara-suara yang dibuang begitu saja, sampah berserakan di mana-mana. Botol-botol air mineral, plastik bungkus roti, puntung rokok, kardus bekas, hasil kehausan dan kelaparan suara atau justru bukti kerakusan suara para insan.

Andai saja rasa haus, lapar dan rakus itu berlaku juga pada aksi, bukan hanya pada suara semata, pasti masalah tidak akan beranak-pinak. Namun, sayangnya tak banyak yang sadar akan hal itu. Terkadang pun aku.

Kulihat segelintir orang dari ratusan jumlah, mengutip perlahan sampah-sampah itu. Ini yang dinamakan di balik narasi harus ada aksi pasti. Tak penting besar atau kecilnya, yang terpenting adalah ikut andil untuk memulainya dan meneruskannya tanpa pernah mengakhirinya.

Segelintir orang itu adalah anak-anak bangsa yang memakai almamater berwarna kuning dan biru langit. Orang-orang yang peduli dengan negara dan bangsanya. Mereka adalah bunga yang semerbak harumnya, yang terus bertumbuh dan berkembang di kampus dan tanah airnya. Ibu Pertiwi butuh anak-anak seperti mereka.

Hanya beberapa detik setelah mereka memulai sikap yang luar biasa itu, para polisi, pedagang hingga massa pers pun mengikuti langkah kecil mereka. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Mereka yang mengutip sampah-sampah itu, seketika menjadi ramai. Sampah yang tadinya bertumpuk di banyak tempat, kini mereka mengumpulkan dan menumpuknya di satu tempat, membantu para tukang sapu jalanan, agar mudah dan tidak terlalu lelah dalam membersihkan jalan-jalan di negara mereka sendiri.

Ini sebuah kebanggaan. Bisa menyelinap di antara para polisi dan rakyat yang biasanya dibenturkan pada saat orasi dan demostrasi, kini bersama-sama akrab dalam kepedulian. Bahagia melihat pedagang yang ikut mempertanggungjawabkan sampah dari apa yang dijualnya. Damai melirik jurnalis-jurnalis yang seringnya bernarasi, kini ikut beraksi.

Rasanya aku mendapat kebahagian melebihi keinginanku untuk tidur di ranjang dan di pemikiran fiksiku hari itu. Benar-benar menyenangkan sekali bisa melihat kepedulian yang nyata. Bukan kepedulian semu berupa narasi tanpa aksi. (Indah Lestari/CR-03)

 

 

 

 

Tags:
Maton house blok D nomor 7 Jl Bakti VI, Kelurahan Tengkerang Barat
Phone: 082269559867
Copyright @2026. Green Radio Line