Green Radio Line,Indragiri Hilir, Riau -Hamparan mangrove yang tumbuh di sepanjang garis pesisir Riau bukan hanya sekadar deretan pohon bakau yang menghijau di tepian laut. Lebih dari itu, mangrove adalah benteng alami yang melindungi daratan dari ancaman abrasi, penahan intrusi air laut, sekaligus rumah bagi berbagai biota perikanan.
Namun, dalam dua dekade terakhir, keberadaan mangrove menghadapi tekanan serius. Penebangan, alih fungsi lahan, serta perubahan iklim menyebabkan kerusakan yang meluas. Dampaknya bukan hanya pada ekosistem, tetapi juga pada masyarakat pesisir yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut dan perkebunan kelapa.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah bersama Bank Dunia meluncurkan program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR). Di Provinsi Riau, program ini telah berjalan aktif dengan melibatkan ribuan masyarakat setempat.
Kegiatan Media Gathering yang digelar pada 24–25 September 2025 di Sungai Guntung, Kabupaten Indragiri Hilir, menjadi momentum penting untuk memperlihatkan capaian sekaligus tantangan lapangan dari implementasi program ini.
Rehabilitasi 1.683 Hektare, Libatkan Ribuan Warga
Pada hari pertama kegiatan, M. Arif Fahrurozi, S.Pi., M.Si., PPIU Manager M4CR Provinsi Riau, memaparkan capaian sepanjang tahun 2024.“Kami telah merehabilitasi 1.683 hektare mangrove dengan melibatkan 1.128 masyarakat lokal, baik laki-laki maupun perempuan. Angka ini hanya dari kegiatan penanaman. Belum termasuk pembibitan, pelatihan ekonomi, hingga kegiatan produktif lainnya,” ujar Arif.
Keterlibatan masyarakat tidak hanya bersifat simbolis. Mereka memperoleh manfaat nyata berupa upah kerja. Menariknya, pembayaran dilakukan secara non-tunai.“Masyarakat yang ikut menanam memperoleh upah harian berdasarkan prestasi kerja. Pembayaran dilakukan melalui rekening masing-masing, satu nama satu rekening,” tambah Arif. Target M4CR di Riau hingga 2027 adalah merehabilitasi 5.858 hektare mangrove di lima kabupaten/kota pesisir.
Potensi Ekologi yang Masih Luas
Arif Adi Suhastyo, S.Hut., M.Si., Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan BPDAS Indragiri Rokan, mengungkapkan, potensi ekosistem mangrove di Riau sangat besar.“Di kawasan Indragiri dan Rokan, mangrove kita ada sekitar 220 ribu hektare. Sekitar 30 persen kategori jarang, 30–70 persen kategori sedang, dan lebih dari 70 persen tergolong lebat,” jelasnya.
Menurutnya, dengan distribusi tersebut, masih banyak ruang untuk perbaikan kualitas dan rehabilitasi kawasan yang rusak. Keberhasilan rehabilitasi bukan hanya menambah tutupan mangrove, tetapi juga memperkuat fungsi ekologis pesisir.
Mangrove dan Nilai Ekonomi Tersembunyi
Lebih jauh, mangrove juga menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar. Joko Yuni Purwanto, S.Hut., Kepala UPT KPH Mandah, memaparkan hasil survei pihaknya pada 2021.“Mangrove tidak hanya penting secara ekologi, tetapi juga ekonominya besar. Dari survei kami, satu tongkang kepiting bisa mencapai 3–5 ton per bulan, itu belum termasuk udang dan hasil perikanan lainnya,” katanya.
Menurut Joko, dengan adanya M4CR, masyarakat diarahkan untuk mengembangkan usaha hasil hutan bukan kayu, seperti perikanan kepiting, madu kelulut, hingga usaha ekonomi kreatif lainnya.
Tragedi Abrasi di Desa Kuala Selat
Hari kedua kegiatan, rombongan media dibawa menyaksikan langsung tragedi abrasi Desa Kuala Selat. Perjalanan ditempuh dengan speed boat menyusuri sungai, sebelum akhirnya tiba di kawasan yang terdampak abrasi parah.
Kepala Desa Kuala Selat, Nurjaya, menceritakan kisah memilukan yang dialami warganya sejak 2021.“Dulu kawasan ini adalah perkebunan kelapa. Satu bidang kebun seluas 2,5 hektare bisa menghasilkan hingga 10 ton, dengan nilai sekitar 50 juta rupiah per tiga bulan. Tapi setelah abrasi dan air laut masuk, semuanya mati. Tanah berubah asin dan berlumpur. Total ada 1.800 hektare kebun kelapa yang hancur, dengan 480 kepala keluarga terdampak,” ungkap Nurjaya.
Kerugian itu membawa dampak sosial serius. Banyak anak putus sekolah, bahkan mahasiswa terpaksa berhenti kuliah untuk kembali membantu orang tua.“Dari petani kelapa, warga terpaksa beralih menjadi nelayan. Kehidupan berubah seketika,” imbuhnya.
Tantangan di Lapangan
Menurut PPIU Manager M4CR Riau, M. Arif Fahrurozi, perubahan mata pencaharian warga dari petani ke nelayan menjadi tantangan besar.“Proses penyadaran dilakukan melalui sosialisasi, sekolah lapang, forum diskusi, hingga penggalian potensi. Kami menerapkan prinsip padiatapa, yaitu persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan,” jelasnya.
Selain itu, akses menuju desa hanya bisa ditempuh melalui sungai atau laut, sehingga logistik dan mobilisasi menjadi kendala tersendiri. Di tingkat masyarakat, berbagai persoalan lain juga muncul. Ketua KTH Selat Berseri, Poryanto, menceritakan kendala lapangan yang harus dihadapi.“Kami sering berhadapan dengan satwa liar, termasuk ular berbisa. Selain itu, rasa sedih melihat kebun kelapa hancur sangat membekas. Tapi dengan adanya program sekolah lapang dari M4CR, ada harapan baru. Kami hanya berharap dibuat pemecah ombak agar mangrove yang ditanam tidak hanyut,” ucapnya.
Perempuan Pesisir, Penjaga Mangrove
Implementasi M4CR dilapangan juga menempatkan perempuan sebagai penjaga mangrove. Menurut M. Arif Fahrurozi, perempuan pesisir memiliki peran penting sebagai “penjaga mangrove dan penjaga masa depan”. Mereka kini dilibatkan dalam perencanaan, musyawarah desa, hingga pelatihan kepemimpinan. Selain itu, perempuan juga berperan dalam usaha produktif, pengelolaan keuangan rumah tangga, dan kegiatan keterampilan. Hal ini menjadikan program M4CR bukan hanya berorientasi lingkungan, tetapi juga pengarusutamaan gender. R. Nurizawati, Ketua KTH Mekar Bersama, menuturkan alasannya bergabung dalam program ini.“Saya ikut M4CR karena menyadari bahwa rehabilitasi mangrove sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. Sebelum ada abrasi, perempuan biasanya membantu laki-laki bekerja di kebun kelapa. Tapi setelah abrasi tahun 2021, peran perempuan nyaris hilang, kami tidak lagi dilibatkan. Baru sejak M4CR hadir pada 2024, perempuan mulai diberi ruang untuk ikut serta,” ungkap Nurizawati.
Baginya, M4CR bukan sekadar program lingkungan, melainkan pintu harapan baru.“Dengan ikut dalam penanaman mangrove, perempuan kini bisa ikut berperan. Kami bisa membantu ekonomi keluarga sekaligus menjaga alam. Jadi kami merasa lebih dihargai,” tambahnya.
Testimoni Nurizawati ini memperlihatkan bagaimana program rehabilitasi tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga memulihkan peran sosial perempuan di pesisir.
Usaha Baru: Madu Kelulut
Sementara itu, Ketua KUPS Madu Kelulut Sejahtera, Husni Tamrin, melihat peluang baru dari program ini.“Kami mengembangkan usaha madu kelulut dari hutan desa. M4CR membantu kelompok kami untuk memperluas usaha ini, sekaligus menjaga kelestarian mangrove,” ujarnya.
Usaha madu kelulut menjadi alternatif ekonomi yang ramah lingkungan, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat desa.
Media Turut Menanam Mangrove
Selain berdialog dengan masyarakat, rombongan media juga diajak meninjau tanggul jebol sepanjang satu kilometer yang rawan memperparah abrasi. Kegiatan ditutup dengan penanaman mangrove bersama warga.
Didik Setiawan, fotografer merahputih.com, mengaku pengalaman ini sangat berkesan.“Saya bisa melihat langsung bagaimana dampak abrasi dan bagaimana masyarakat berusaha bangkit,” katanya.
Sementara Nindi dari GarudaTV menyebut kegiatan ini membuka perspektif baru.“Melihat langsung kondisi di lapangan membuat kami lebih memahami pentingnya rehabilitasi mangrove,” ujarnya.
Reporter: Elsa Yolanda





