Green Radio Line, Pekanbaru - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau masih menyisakan area yang belum berhasil dipadamkan. Di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, sedikitnya 13 hektare lahan terbakar dan api telah mendekati permukiman serta kebun milik masyarakat.
Greenradioline meninjau langsung lokasi karhutla di Desa Rimbo Panjang pada Senin (24/8/2026). Saat peninjauan berlangsung, proses pemadaman masih dilakukan personel gabungan, sementara asap dari lahan yang terbakar terus membumbung di sejumlah titik.
Rimbo Panjang menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena letaknya berdekatan dengan Kota Pekanbaru. Desa tersebut hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Pekanbaru dan sekitar 1-2 kilometer dari perbatasan wilayah Pekanbaru-Kampar.
Posisi tersebut membuat karhutla di Rimbo Panjang berpotensi memberikan dampak langsung terhadap kualitas udara Kota Pekanbaru. Ketika kebakaran terjadi dan angin membawa asap ke arah kota, kabut asap dari wilayah Kampar relatif mudah mencapai kawasan perkotaan.
Kondisi tersebut terjadi di tengah luas karhutla Riau yang mencapai 16.277,50 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Riau, Edy Afrizal menjelaskan sekitar 900 hektare area yang terbakar di Riau belum berhasil dipadamkan dan tersebar di empat kabupaten.
Dalam periode yang sama, tercatat 10.514 titik panas (hotspot) dan 521 titik api (fire spot) di Provinsi Riau. Angka tersebut menunjukkan penanganan karhutla masih menghadapi tantangan besar, terutama di wilayah dengan karakteristik lahan gambut.
"900 (hektare)," jawab Edy saat ditanya Presiden Prabowo, Senin (24/8/2026).
Di Rimbo Panjang, lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut yang telah mengering. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi lebih sulit karena api dapat menjalar dan bertahan di lapisan bawah permukaan gambut.
Petugas di lapangan harus melakukan penyiraman berulang untuk memastikan api benar-benar padam. Setelah air disiramkan ke permukaan, sejumlah titik terkadang masih mengeluarkan asap tipis dari dalam lapisan gambut yang menandakan masih adanya sumber panas di bawah permukaan.
Untuk memenuhi kebutuhan air, petugas terlihat menggali sumur di sekitar lokasi kebakaran. Air dari sumur tersebut kemudian dipompa menggunakan mesin dan dialirkan ke titik-titik api yang masih menyala maupun mengeluarkan asap.
Upaya pemadaman juga dilakukan dengan mengerahkan alat berat. Alat tersebut digunakan untuk menggali parit di sekitar area terbakar sebagai sekat guna membatasi pergerakan api agar tidak merambat ke lahan yang belum terbakar.
Selain penanganan melalui jalur darat, dukungan pemadaman dari udara juga dilakukan di lokasi. Helikopter terlihat beberapa kali melintas dan melakukan water bombing pada titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Di sekitar lokasi juga terlihat sejumlah tenda darurat yang menjadi tempat personel gabungan selama menjalankan operasi pemadaman. Pengerahan personel, mesin pompa, alat berat, dan helikopter dilakukan secara bersamaan untuk mempercepat penanganan kebakaran.
Ancaman karhutla di Rimbo Panjang tidak hanya berada di kawasan lahan yang terbakar. Titik api berada dekat dengan permukiman dan kebun masyarakat sehingga upaya pembatasan pergerakan api menjadi bagian penting dari proses penanganan.
Kondisi gambut yang kering menjadi salah satu kendala utama di lapangan. Api yang berada di bawah permukaan membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memadamkan kobaran api yang terlihat, tetapi juga harus memastikan sumber panas di dalam gambut benar-benar mati.
Letak Rimbo Panjang yang berada dekat dengan Pekanbaru membuat penanganan karhutla di wilayah tersebut memiliki dimensi yang lebih luas. Kebakaran di kawasan perbatasan Kampar-Pekanbaru tidak hanya mengancam lahan dan permukiman di sekitar titik api, tetapi juga berpotensi memperburuk kualitas udara di pusat aktivitas ekonomi Riau.
Desa Rimbo Panjang sebelumnya direncanakan menjadi salah satu lokasi yang dikunjungi Presiden Prabowo Subianto dalam agenda peninjauan penanganan karhutla di Riau. Namun, setelah mengikuti rapat darurat penanganan karhutla di Posko Aju Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, Presiden tidak jadi mengunjungi lokasi tersebut dan melanjutkan agenda kunjungan ke daerah lainnya.
Reporter : Sahrim M. Sihotang
Foto : GRL





